UNEN: INTERPERTASI KREATIF PADA TRADISI MAMACA MADURA – Ujian Porposal Karya Seni S2 Shafira Onky Parasmita
Pada hari ini, Jumat tanggal 11 April 2025, Pascasarjana ISI Surakarta menyelenggarakan ujian proposal atas nama Shafira Onky Parasmita NIM. 232111029 dengan Tesis berjudul “UNEN: INTERPERTASI KREATIF PADA TRADISI MAMACA MADURAM”.
Ujian ini menhadirkan Dr. Handriyotopo, S.Sn. sebagai Ketua Penguji, Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum., sebagai Pembimbing dan Dr. Peni Candra Rini, M.Sn. sebagai Penguji.
Dalam ujiannya, Shafira menjelaskan, bahwa mamaca adalah salah satu seni tradisi masyarakat Madura, yang berkembang ke daerah Pandalungan, termasuk Situbondo. Istilah mamaca berasal dari bahasa Madura yang memiliki arti ‘membaca’ dan memiliki kedekatan makna dengan istilah di Jawa. Mamaca merupakan sebuah kegiatan membaca teks berupa puisi atau cerita dengan cara dilagukan atau dinyanyikan dalam bentuk tembang dan dijelaskan atau diinterpretasi (tegghes) dalam bahasa Madura.
Mamaca memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari kesenian lain. Keistimewaan mamaca terletak pada keberadaan paneges (juru ulas) dan pamaos (pembaca). Kombinasi keduanya memungkinkan pesan dalam tembang (lagu) tersampaikan secara utuh kepada pendengar.
Mengapa mamaca yang diangkat sebagai konsep? Pengkarya memiliki pandangan bahwa mamaca saat tidak lagi dikenal oleh oleh masyarakat secara umum, apa lagi anak-anak muda. Lebih dari itu, seni mamaca juga sudah cukup asing bagi kebayangan seniman muda. Fakta yang lain, mamaca sebagai seni tradisi, keberadaannya semakin terpinggirkan, dan jarang sekali dielaborasi atau diungkapkan ulang ke dalam bentuk kerja kreatif yang baru, atau bahkan hanya sekedar didekatkan kembali kepada generasi mudapun juga jarang dilakukan.
Shafira menjelaskan, bahwa rencana objek penciptaan dalam karya ini adalah konsep tradisi mamaca sebagai dasar konsep penciptaan karya, Mamaca bisa dikatakan juga pengembangan dari macapat Jawa dalam versi Madura. Selain pertemuan unsur budaya Jawa dan Arab, mamaca turut mengandung unsur budaya Madura yang dominan.
Menurut Shafira, karya ini nantinya akan berdurasi kurang lebih 45 menit dan dibagi menjadi tiga bagian. Tiga bagian karya ini akan menjadi presentasi pengkarya untuk menyikapi situasi dan selera musikal anak masa kini. Pertunjukannya menggunakan beberapa bentuk kesenian vokal yang ada di Jawa Timur seperti tradisi mamaca, loak-laok, ura-ura, gaya Gresik.
Karya pertama menginterpertasi musikal tradisi kesenian Mamaca. Terdapat beberapa hal penting yang menarik yaitu hadirnya pamaos (pembaca), paneghes (penerjemah) yang secara pertunjukan menjadi dua hal yang berbeda namun berupa kesatuan pertunjukan, dua hal yang dimaksud adalah saat tembang dilantumkan maka akan hadir pula penerjemah yang cara membawakan terjemahanya seperti dalang.
Bagian kedua mengadopsi konsep atau teknik vokal tradisi uraura, yang merupakan bentuk lantunan vokal tanpa struktur penyajian namun berupa kebiasaan bersenandung saat beraktifitas, hal yang membedakan antara loak-laok dan ura-ura adalah uro-uro akan nampak lagu yang dibawakan sehingga akan mempermudah para pendengar untuk menikmati bahkan ikut bergabung dalam momen bernyanyi tersebut.
Bagian ketiga secara konsep penciptaan mengadopsi konsep gaya Gresik, menurut Hari Subroto (alm) guru vokal di SMKI kemudian dituturkan ulang oleh Suwandi, Hari Subroto menuturkan tentang gaya Gresik yang paling khas adalah keterlibatan pendengar untuk memberi senggakan (aksen musikal untuk memperberat lagu) pada akhir baris yang telah tersedia secara pasti pada setiap jenis tembang.
Menurut Shafira, tujuan karya seni dari tesis ini adalah menginterpretasi seni tradisi vokal atau tutur dari tradisi mamaca, loak-laok, ura-ura dan gagrag gresik, menunjukan dimensi kreatif dalam sisi penyandingan dua metode penciptaan dan penyajian, yaitu pertunjukan dengan kemasan analog dan digital, permainan teknik vokal yang beragam dan menunjukan kepada masyarakat musik masa kini, bahwa suara alami dari sebuah instrument adalah sumber dari segala sumber terciptanya teknologi.
