Category Archives: Program Magister (S2)

Ujian Tugas Akhir Prodi Magister/S2 Penciptaan Seni Musik

Sinopsis Karya ga·ʼahʹ
Karya musik ga·ʼahʹ diangkat dari kisah pembangunan menara Babel yang tertulis dalam Alkitab, yaitu dalam kitab Kejadian 11:1-9. Pembangunan menara Babel terjadi setelah peristiwa air bah dimana keturunan nabi Nuh mencari daerah untuk didiami dan menemukan tempat yang datar di tanah Sinear, yang mereka yakini dapat menjadi tempat tinggal mereka dan hidup bersama tanpa harus terpisah satu dengan lainnya. Di tempat itu, mereka berencana mendirikan sebuah menara yang ujungnya sampai ke langit untuk menghindari musibah air bah dan untuk menyamai Allah yang mereka yakini tinggal di langit. Karya ini akan dibawakan dalam bentuk paduan suara teatrikal yang digabungkan dengan musik ensembel.

Alur Registrasi Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2019/2020

KEPADA MAHASISWA PASCASARJANA ISI SURAKARTA DIBERITAHUKAN BAHWA SETELAH BAYAR SPP, BUKTI PEMBAYARAN DISERAHKAN KE BAGIAN ADMINISTRASI DAN SELANJUTNYA KONSULTASI PEMBIMBING AKADEMIK (PA) DAN PENGISIAN KARTU RENCANA STUDI ON-LINE BISA DI LAKSANAKAN PADA TANGGAL 2 – 13 SEPTEMBER 2019.
DEMIKIAN PEMBERITAHAN ATAS PERHATIAN DAN KERJASAMANYA DI UCAPKAN TERIMAKASIH.

Batas pembayaran SPP Mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta

Hasil Seleksi Penerimaan Calon Mahasiswa Baru Jalur Mandiri Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni

Hasil Seleksi Penerimaan Calon Mahasiswa Baru Jalur Mandiri Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni

Masa Studi Mahasiswa Program Studi Magister (S2) dan Doktor (S3)

Pemberitahuan masa studi Mahasiswa Program Studi Magister (S2) dan Doktor (S3)

Ujian Tugas Akhir Karya Seni Minat Penciptaan Seni Teater Oleh Luna kharisma

Ujian Tugas Akhir Penciptaan Seni Musik oleh Jay Jay Lius

Sinopsis “ Tiratana “

  1. “Ti-Lakkhana”

“Ti” adalah tiga dan “Lakkhana” adalah permata yang terkandung dalam literatur Buddhisme yang meliputi dari tiga corak kehidupan yang mencengkeram segala sesuatu dalam semesta alam. Tidak ada sesuatu bentuk apapun bebas dari tiga corak kehidupan. Ti-Lakkhana merupakan tiga sifat umum yang pasti dimiliki oleh setiap fenomena yang terkondisi. Keberlangsungan dari fenomena adalah “diri” yang terkondisi dengan adanya “perasaan” yang muncul.

2. “Anicca”

“Ketidakkekalan” merupakan sebuah fenomena mendasar yang terdapat dalam semua eksistensi benda-benda. Dalam Dhammapada (277) : “Semua benda-benda yang ada bersifat sementara”. Semua hal terlibat dalam proses menjadi berkelanjutan, perubahan serta kematian. Bergerak kea rah usia tua, sakit, dan kematian yang merupakan fakta-fakta mendasar dari dunia fenomena.

“Anicca” merupakan esensi dari filsafat analitis Buddhisme yang diinterpretasi ke dalam karya musik instrumental kontemplatif. Karya musik “Anicca” menyampaikan pesan mengenai “Doktrin Jalan Tengah” (The Middle Doctrine). Inti dari “Jalan Tengah” bahwa segalanya merupakan sebuah “Proses Menjadi” (Becoming), karena dalam dunia Samsâra tidak ada momen yang statis. Perubahan dalam semua makhluk hidup selalu ditentukan oleh kondisi pra-eksistensi menurut hukum Karma.

3. “Dukkhata”

“Penderitaan” adalah fenomena hidup paling mendasar dalam dunia ini. Penderitaan menjadi ciri paling khas dari dunia dimana setiap makhluk hidup cenderung mengalami “derita”, yakni; kelahiran, usia tua, kesakitan dan kematian. Penderitaan merupakan sebuah fakta fisik dan mental dari kehidupan manusia, karena “derita” tertanam di dalam eksistensi semua makhluk hidup di dunia ini. Dalam Dhammapada (248) : “Semua yang berwujud terlibat dalam penderitaan”. Sumber utama penderitaan adalah “nafsu dan kesenangan inderawi manusia”.

4. “Anatta”

“Ketiadaan diri” merupakan aspek penting lainnya dalam literatur Buddhisme. “Anatta” (Non-Self) adalah tidak ada jiwa yang permanen dan kekal seperti substansi dalam diri manusia. Buddhisme menekankan bahwa sang “diri” (Self) bukan merupakan suatu entitas yang tidak berubah, tetapi sesungguhnya adalah “kosong (Empty).

5. “Kamma”

“Perbuatan” merupakan aspek penting lainnya dalam literatur Buddhisme. “Kamma” dapat diterjemahkan sebagai Samsâra “tumimbal- lahir” (reinkarnasi). Literatur Buddhisme mengajarkan bahwa dunia “Samsâra” adalah dunia “penderitaan” dan “ilusi”. Manusia membebaskan diri dari “Samsâra” untuk mencapai keselamatan.

Ajaran tentang “Samsâra” terkait erat dengan doktrin “Kamma”. Kamma  dapat  berarti  hukum  kuasalitas,  kerja  atau  tindakan.  Kondisi

seseorang  dalam  dunai  “Samsâra”  menjadi  ciri  “Kamma”  kehidupan sebelumnya, karena “Kamma” menetukan masa depan seseorang.