Ujian Tertutup S3 Pascasarjana ISI Surakarta Atas Nama Siti Muslifah – PERUBAHAN PERTUNJUKAN WAYANG POTEHI DI GUDO JOMBANG JAWA TIMUR SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BUDAYA

Tanggal 29 Agustus 2025, Pascasarjana Prodi Doktor ISI SURAKARTA, menyelenggarakan Ujian Tertutup untuk mahasiswa S3 bernama Siti Muslifah, dengan judul disertasi
PERUBAHAN PERTUNJUKAN WAYANG POTEHI DI GUDO JOMBANG JAWA TIMUR SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BUDAYA.

Wayang Potehi, merupakan produk budaya yang dibawa migran dari Fujian, Cina Selatan. Wayang Potehi berarti wayang kantung kain. Awalnya, diciptakan oleh lima terpidana yang menunggu eksekusi mati di penjara. Salah satunya kemudian membuat hiburan dengan peralatan sederhana yang ada di penjara. Kain dimasukkan ke tangan, jadilah boneka yang digerak-gerakkan dan berdialog sesuai tuturan Dalang dengan cerita-cerita populer yang dikenal, misalnya Sie Djin Kwie. Peralatan masak seperti panci, piring, sendok, menjadi alat musik sederhana yang mengiringi pertunjukan. Suara musiknya yang bertalu-talu, terdengar ke istana. Kaisar kemudian mengundang mereka untuk tampil dan menghibur. Kaisar yang merasa puas dengan pertunjukan itu, kemudian mengampuni dan membebaskan mereka dari hukuman.

Tok Soe Kwie, seniman Potehi dari Fujian bersama rombongannya membawa seni ini ke Indonesia hingga sampai di Gudo, Jombang, Jawa Timur. Tok Soe Kwie adalah seniman Potehi generasi pertama, yang kemudian menikah dengan gadis Jombang dan menurunkan Tok Hong Kie. Tok Hong Kie juga menikah dengan gadis Jombang dan menurunkan Tok Hok Lay atau Toni Harsono. Mereka yang awalnya menganen atau pentas keliling dan tidak punya tempat tinggal tetap, kemudian diminta kepala kelenteng Hong San Kiong untuk tinggal dan pentas di klenteng setiap hari untuk menghibur masyarakat. Tok Soe Kwie lalu mendirikan grup seniman Potehi yang diberi nama Fu He An, artinya kesejahteraan dan keselamatan. Masa Orde Lama, Wayang Potehi mengalami kejayaan. Masa Orde Baru, Wayang Potehi mengalami masa surut. Masa Reformasi, Wayang Potehi muncul kembali dengan kondisi zaman yang sudah berbeda dan berubah.

Berdasarkan sejarahnya, Wayang Potehi di negri leluhurnya pernah diberangus pada masa revolusi kebudayaan di Cina. Wayang Potehi di Indonesia, pernah dibekukan selama Orde Baru, melalui INPRES nomor 14 tahun 1967. Masa reformasi, Wayang Potehi diijinkan tampil kembali. Jeda waktu dibekukan dan diijinkannya tampil kembali, lebih dari tiga dekade, sehingga pertunjukan tidak dikenal, terutama oleh generasi muda. Padahal, cerita-cerita dalan pertunjukan Wayang Potehi mengandung nilai-nilai moral, heroisme, nasionalisme, toleransi, loyalitas, kejujuran, sikap hormat, bakti pada orang tua dan guru, kesetiaan, persahabatan dan lain-lain. Hal itu penting untuk sarana pendidikan karakter. Sehingga Wayang Potehi harus dikenalkan kembali kepada generasi muda. Apabila tidak dikenalkan kembali, Wayang Potehi dikhawatirkan punah.

Kondisi kemunculan kembali wayang potehi di era reformasi,menghadapi tantangan dan selera zaman. Perubahan Pertunjukan Wayang Potehi dilakukan untuk menyesuaikan perkembangan zaman. Kreativitas seniman, inovasi, pemanfaatan teknologi dan kerjasama dengan kolaborasi, dapat menjadi upaya pelestarian Wayang Potehi agar tidak punah tergerus zaman.

Berdasarkan hal tersebut maka disertasi ini memfokuskan permasalahan pada :

  1. bagaimana Perubahan Pertunjukan Wayang Potehi di Gudo Jombang
  2. Mengapa terjadi perubahan pertunjukan Wayang Potehi di Gudo Jombang, Jawa Timur
  3. Bagaimana bentuk-bentuk perubahan pertunjukan Wayang Potehi di Gudo Jombang Jawa Timur.

Tujuan penelitian :

  1. menjabarkan bagaimana perubahan pertunjukan terjadi pada kondisi sosial masyarakat yang berubah,
  2. mengungkapkan faktor-faktor penyebab perubahan pertunjukan dan dampaknya
  3. menemukan bentuk-bentuk perubahan pertunjukan Wayang Potehi di Gudo, Jombang, Jawa Timur.

Bentuk penelitian kualitatif deskriptif, dengan metode etnografi melalui pendekatan budaya. Sumber data berupa teks komik Sie Djin Kwie Tjeng Tang dan pertunjukan wayang potehi lakon Sie Djin Kwie Tjeng Tang. Data berupa teks komik dan pertunjukan wayang potehi. Teknik pengumpulan data dengan cara simak catat, observasi dan studi pustaka. Analisis, menggunakan analisis interaktif menurut Miles dan Hubberman. Validasi penelitian dilakukan melalui triangulasi data.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan pertunjukan Wayang Potehi di Gudo Jombang Jawa Timur terjadi pada situasi sosial budaya masyarakat yang berubah.

Perubahan disebabkan oleh faktor internal karena keinginan seniman untuk berubah dan faktor eksternal berupa kontak budaya.

Bentuk perubahan berupa perubahan bahasa, perubahan tempat dan perubahan fungsi.

Perubahan Pertunjukan terjadi karena alih wahana dari Komik Sie Djin Kwie Tjeng Tang yang mengalami peringkasan sumber lakon aksara berupa serial cerita komik oleh Dalang Widodo Santoso dilakukan untuk efektifitas waktu dan biaya.

Pertunjukan Wayang Potehi lakon Sie Djin Kwie Tjeng Tang oleh grup Fu He An Gudo, Jombang, Jawa Timur saat tampil ditanggap di Museum Sanabudaya Yogyakarta, adalah pertunjukan yang ringkas ceritanya dan ringkas durasi tanggapannya.

Perubahan pertunjukan Wayang Potehi juga terlihat pada modernisasi sebagai upaya pelestarian budaya.

Modernisasi berupa Pertunjukan Kolaborasi Wayang Potehi dengan Opera Cina dan Ketoprak Jawa, dengan inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Pertunjukan kolaborasi tersebut berimplikasi pada perubahan media, dari 1 media boneka, menjadi 2 media boneka dan manusia. Perubahan ruang, yg awalnya ruang berupa boks berukuran 3×4 meter, berubah menjadi pertunjukan di boks berukuran 3×4 m dan panggung besar aula, lebih dari 3×4 m.

Perubahan Pertunjukan Wayang Potehi di Gudo Jombang Jawa Timur tersebut, berdampak positif, karena Wayang Potehi menjadi pertunjukan yang eksis, Wayang Potehi dapat menjadi branding Jombang, Wayang Potehi dapat mendukung pariwisata, Wayang Potehi dapat menjadi sarana moderasi beragama dan berperan dalam proses pendidikan dengan adanya pelatihan mendalang untuk para siswa, Wayang Potehi merupakan produk budaya yang dikenal tidak hanya di tingkat lokal (Jombang) dan nasional (Indonesian) saja, tetapi pentas-pentas di tingkat internasional serta dukungan komunitas, pemerintah dan negara, dengan mengajukan Wayang Potehi sebagai Warisan Budaya Dunia ke UNESCO, merupakan upaya pelestarian budaya, terutama pelestarian Wayang Potehi di Gudo Jombang Jawa Timur.

Temuan penelitian, bahwa Wayang Potehi di Gudo Jombang Jawa Timur merupakan produk budaya Cina yang sudah membaur dan menjadi bagian dari keberagaman budaya di Indonesia. Wayang Potehi dapat diupayakan kelestariannya melalui inovasi dan kreasi seniman, upaya kerja sama dengan pihak lain melalui kolaborasi, dukungan komunitas , dukungan Maecenas Toni Harsono, dukungan masyarakat pemilik kebudayaan, dan dukungan pemerintah.
Rekomendasi penelitian adalah Wayang Potehi harus dikenalkan kepada generasi muda, agar nilai-nilai pentung yang ada di dalamnya dapat menjadi sarana pendidikan karakter dan sarana pembauran untuk membentuk harmoni budaya, yang dapat mencegah disintegrasi bangsa. Ajuan Wayang Potehi sebagai Warisan Budaya Dunia diupayakan keberhasilannya, agar Wayang Potehi tetap lestari dan tidak punah.