Transformasi Estetika dan Teknis Visual Wayang Kulit ke Bahasa Sinema dalam Penciptaan Film Wuk Bertema Sunat Perempuan – Ujian Tugas Akhir S2 Achmad Rezi Fahlevie
PPS-ISI-SKA – Program Pascasarjana Program Magister Seni, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Ujian Tugas Akhir Penciptaan Seni atas nama Achmad Rezi Fahlevie (232111002). Tesis penciptaan seni ini berjudul “Transformasi Estetika dan Teknis Visual Wayang Kulit ke Bahasa Sinema dalam Penciptaan Film Wuk Bertema Sunat Perempuan.” Ujian dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari 2026, pukul 13.00–15.00 WIB, bertempat di Gedung SBSN Multi Matra ISI Surakarta Kampus 2.
Ujian ini diketuai oleh Dr. Drs. Budi Setiyono, M.Si., dengan Dr. Ranang Agung S., S.Pd., M.Sn. sebagai pembimbing, serta Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn. sebagai penguji.
Penelitian penciptaan ini berfokus pada proses transformasi estetika dan teknis visual wayang kulit ke dalam bahasa sinema melalui medium film pendek fiksi berjudul Wuk. Film ini mengangkat isu sunat perempuan (female genital mutilation) dalam konteks budaya masyarakat Jawa dengan menempatkannya sebagai persoalan relasi kuasa, tradisi, dan pelanggaran hak tubuh perempuan. Narasi film dibangun melalui konflik keluarga yang berpusat pada tokoh Ulfah, seorang ibu muda yang menolak praktik sunat terhadap bayi perempuannya.
Penciptaan karya mengeksplorasi teknik siluet sebagai strategi visual utama film Wuk yang berasal dari pertunjukan wayang kulit. Siluet digunakan sebagai bentuk transformasi estetika untuk merepresentasikan konflik batin, ketegangan sosial, dan ketertutupan komunikasi dalam keluarga, sekaligus sebagai pendekatan visual yang menghindari representasi kekerasan secara eksplisit. Relasi terang–gelap, penggunaan backlighting, komposisi dua dimensi, serta ritme pergerakan aktor dalam bingkai gambar diolah menyerupai prinsip visual kelir wayang dalam medium sinema.
Selain teknik siluet, film Wuk memanfaatkan simbol budaya Jawa (tetesan): tumpeng, ani-ani, bunga mawar merah, dan kelapa, dan dupa sebagai bahasa simbolik dalam menyampaikan kritik sosial. Tradisi tetesan dimaknai ulang sebagai simbol tekanan adat yang dilembagakan melalui ritual, sementara objek-objek budaya lainnya berfungsi memperkuat lapisan makna tentang tubuh perempuan, kepatuhan, dan kontrol sosial.
Hasil penciptaan film Wuk diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan praktik film fiksi berbasis tradisi, khususnya dalam transformasi estetika wayang kulit ke dalam bahasa sinema, serta membuka ruang refleksi kritis terhadap praktik sunat perempuan dalam masyarakat Indonesia.





