Terapi Imajinasi Orang-Orang Pilihan – Aditya Wahyu Ramadhan – Ujian Terbuka S3 Aditya Wahyu Ramadhan
Terapi Imajinasi Orang-Orang Pilihan – Aditya Wahyu Ramadhan
Surakarta, 04 September 2025 – Program Doktor Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Ujian Pagelaran Karya dan Pertanggungjawaban Terbuka Karya Seni Promosi Doktor Program Studi Seni Program Doktor
Disertasi berjudul Terapi Imajinasi Orang-Orang Pilihan oleh Aditya Wahyu Ramadhan. Karya disertasi ini diselesaikan di bawah bimbingan Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. sebagai promotor dan Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn. sebagai Ko-Promotor. Ujian dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 4 September 2025 di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta, dengan susunan dewan penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum. selaku Ketua Penguji, Dr. Zulkarnanain Mistortoify, M.Hum. selaku Seketaris Penguji, Prof. Dr. Drs. RM. Pramutomo, M.Hum., Dr. dr. A. Herdaetha, Sp.KJ, M.H., Prof. Dra. Kwartarini Wahyu Yuniarti, Med.Sc.Ph.D. Psikolog., Prof Sardono W Kusumo., Prof. Dr. Hj. Sri Rochana Widyastutieningrum, S.Kar., M.Hum selaku anggota tim penguji.
Disertasi karya seni ini menguraikan tentang terapi imajinasi sebagai suatu metode penciptaan yang spesifik oleh pengkarya dengan konsep hiperrealitas dalam menciptakan terapi seni atau tepatnya terapi visual bagi sepuluh orang klien skizofrenia, yang dalam hal ini disebut orang-orang pilihan atau klien, dalam mengaktifkan kembali kemampuan kognitif, meminimalisir delusi dan halusinasi. Hiperrealitas di sini diambil dari seluruh data yang diimajinasikan. Dapat dikatakan bahwa pemanfaatan dokumen dan arsip mereka merupakan media utama dari apa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Baik itu properti yang digunakan, lagu/musik, kebiasaan sehari-hari, dan lain-lain, digunakan sebagai sarana dan bahan dasar utama dalam terapi imajinasi. Terapi imajinasi diposisikan sebagai suatu metode penciptaan yang diambil dari cerita, keinginan, dan imajinasi klien yang belum terealisasi yang dipadukan dengan visual hiperrealitas.
Proses ini didekati dengan persinggungan-persinggungan yang berulang seperti berkolaborasi dalam mewujudkan visual untuk kemudian dicek ulang dan dievaluasi bersama. Visual mana yang tidak disukai dan disukai, dan imajinasi apa saja yang hendak diwujudkan sebagai pengembangan lebih lanjut, dari persinggungan pertama sampai dengan persinggungan kesepuluh yang berlangsung sekitar satu sampai dua jam, sebelum akhirnya dinilai oleh psikiater pada PANSS (Positive and Negative Syndrome Scale), menilai gejala positif dan negatif klien, dan SWLS (Satisfaction With Life Scale) mengukur aspek kognitif dari kesejahteraan subjektif klien. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Terapi imajinasi dalam hal ini dapat disebut sebagai salah satu bentuk pemberian keyakinan untuk memproses apa yang diharapkan oleh setiap klien. 2) Konsep hiperrealitas juga merupakan kerja berkelanjutan dari upaya untuk mengaktifkan kembali kemampuan kognitif dari apa yang dihadapi sehingga keinginan menjadi berdaya dan setara. 3) Akses ini erat kaitannya dengan keyakinan diri dalam mewujudkan keinginan terdalam di hari-harinya klien.



