TARI KEBLAT PAPAT LIMA PANCER: SEBUAH TAFSIRBARU WAHYU SANTOSO PRABOWO TERHADAPKOSMOLOGI JAWA – Ujian Tugas Akhir S2 Windri Estri
Ujian Tugas Akhir Tesis Sdr. Windri Estri Pupitaningrum Nim: 232111054
Hari : Rabu
Tanggal : 3 September 2025
Waktu : 09.30 – 11.30 WIB
Tempat : Ruang Sidang Atas Pascasarjana
Judul : Tari Keblat Papat Lima Pancer: Sebuah Tafsir Baru Wahyu Santoso Prabowo Terhadap Kosmologi Jawa
Minat :Pengkajian Tari
Para Penguji:
- Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn (Ketua Dewan Penguji)
- Dr. Slamet, M.Hum (Pembimbing)
- Prof. Dr. Drs. RM. Pramutomo, M.Hum (Penguji)
Tari Keblat Papat Lima Pancer diciptakan oleh Wahyu Santoso Prabowo pada tahun 1992. Tarian ini dibawakan oleh lima penari, terdiri atas satu penari perempuan sebagai pancer dan empat penari laki-laki sebagai keblat. Sejak pertama kali ditampilkan di Gedung Purna Budaya Yogyakarta, karya ini terus hadir dalam berbagai pementasan penting, termasuk Dies Natalis ISI Surakarta tahun 1998 dan Solo Artoz tahun 2021.
Fenomena yang menonjol dari karya ini terletak pada perpaduan tradisi tari Jawa gaya Surakarta dan Mangkunegaran dengan konsep kosmologi Jawa serta nilai spiritualitas. Simbol-simbol kosmologis diwujudkan melalui gerak, busana, properti, hingga musik pengiring.
Penggunaan topeng yang menyerupai rangda misalnya, merepresentasikan energi negatif yang harus dikendalikan, sementara komposisi musik memadukan gamelan dengan instrumen eksperimental sehingga menghadirkan suasana mistis dan kontemplatif.
Konsep keblat papat lima pancer sendiri merupakan pandangan kosmologi Jawa tentang keseimbangan antara empat arah mata angin dan satu pusat kehidupan. Dalam tarian ini, konsep tersebut diwujudkan sebagai representasi hubungan antara jagad besar atau makrokosmos dan jagad kecil atau mikrokosmos. Berdasarkan fenomena tersebut, tari Keblat Papat Lima Pancer menarik untuk diteliti karena bukan hanya sekadar karya estetis, melainkan juga sarat nilai filosofis yang menggambarkan
hubungan manusia dengan alam semesta dan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, penelitian ini diberi judul “Tari Keblat Papat Lima Pancer: Sebuah Tafsir Baru Wahyu Santoso Prabowo terhadap Kosmologi Jawa.”
Rumusan Masalah
Penelitian ini berfokus pada dua rumusan masalah utama:
A. Bagaimana bentuk tari Keblat Papat Lima Pancer karya Wahyu Santoso Prabowo?
B. Bagaimana tafsir tari Keblat Papat Lima Pancer karya Wahyu Santoso Prabowo?
Tujuan Penelitian
- Mendeskripsikan secara analitis elemen-elemen koreografi tari
Keblat Papat Lima Pancer Karya Wahyu Santoso Prabowoc - Mengkaji secara analitis tentang makna simbolis yang terkandung dalam tari Keblat Papat Lima Pancer Karya Wahyu Santoso
Prabowo. Manfaat Penelitian - Manfaat Teoritis
a. Mengetahui secara deskriptif dan analitis bentuk tari Keblat Papat Lima Pancer karya Wahyu Santoso Prabowo
b. Mendeskripsikan dan menganalisis makna simbolis tari - Manfaat Praktis
a. Memberikan pemahaman terhadap pemaknaan suatu bentuk tari sehingga dapat menemukan secara praktis dalam pemaknaan sebuah tari
b. Memberikan referensi mengenai konsep pemaknaan tari Keblat Papat Lima Pancer
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer. Data diperoleh melalui observasi pertunjukan, wawancara dengan koreografer, penari, komposer, serta studi pustaka. Analisis dilakukan dengan kerangka teori bentuk (Suzane K. Langer, Slamet Md, Y. Sumandiyo Hadi), teori simbol (Allegra
Fuller Snyder), dan sistem simbol (Talcott Parsons).
Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Tari Keblat Papat Lima Pancer karya Wahyu Santoso Prabowo tidak hanya hadir sebagai karya seni pertunjukan, tetapi juga sebagai media penyampaian gagasan yang berakar pada kosmologi Jawa. Konsep keblat papat lima pancer yang menjadi dasar penciptaannya memperlihatkan pandangan hidup
masyarakat Jawa mengenai keseimbangan antara jagad gedhe (makrokosmos) dan jagad cilik (mikrokosmos). Melalui simbol-simbol gerak, properti, busana, rias, musik, dan tata panggung, tari ini menghadirkan representasi nilai filosofis tentang arah mata angin, pusat kehidupan, serta hubungan manusia dengan semesta.
Penelitian ini mengungkap bahwa Tari Keblat Papat Lima Pancer merupakan tafsir baru Wahyu Santoso Prabowo terhadap konsep kosmologi Jawa yang memandang jagad besar (makrokosmos) dan jagad kecil (mikrokosmos) sebagai entitas yang saling berhubungan. Makna simbolik yang terkandung di dalamnya mencerminkan nilai-nilai harmoni, keselarasan, dan keseimbangan antara manusia dan semesta. Dari sisi bentuk, struktur penyajian tari ini dibagi menjadi empat bagian yang menggambarkan arah mata angin (keblat papat) dan satu pusat (pancer), yang masing-masing memiliki simbol warna, gerak, dan iringan yang khas. Musik pengiringnya merupakan perpaduan gamelan ageng gaya Surakarta dengan memadukan elemen instrumental lain melalui teknik pukulan eksperimental, sehingga menciptakan nuansa mistis sekaligus kontemplatif.
Dari segi makna, setiap elemen tari, mulai dari gerak, kostum, properti, hingga iringan berfungsi sebagai sistem tanda yang dapat dibaca melalui kerangka konsep Allegra Fuller Snyder dan sistem simbol Talcott Parsons. Penafsiran ini menunjukkan bahwa karya Wahyu Santoso Prabowo tidak hanya berorientasi pada pelestarian tradisi, tetapi juga pada pengembangan bentuk dan makna yang relevan dengan konteks kekinian.
Dengan demikian, Tari Keblat Papat Lima Pancer dapat dipahami sebagai karya koreografi yang menampilkan perpaduan tradisi dan kreativitas kontemporer.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa Tari Keblat Papat Lima Pancer memiliki nilai penting sebagai warisan budaya yang mengintegrasikan estetika, filosofi, dan spiritualitas Jawa. Karya ini sekaligus menjadi bukti kreativitas seorang seniman dalam memadukan tradisi dan inovasi, serta berfungsi sebagai sarana pembelajaran budaya, media refleksi filosofis, dan ekspresi estetik yang tetap relevan bagi masyarakat.


