Tari Denok Karya Bintang Hanggoro Putra – Ujian Tugas Akhir S2 Aulia Rizky Febriana
Tari Denok Karya Bintang Hanggoro Putra
(Kajian Teks Dan Konteks)
Ujian Tugas Akhir S2 Aulia Rizky Febriana NIM:232111006
Hari : Rabu
Tanggal : 26 September 2025
Waktu : 10.00-12.00 WIB
Tempat : Ruang Sidang Bawah Pascasarjana
Judul : Tari Denok Karya Bintang Hanggoro Putra (Kajian Teks Dan Konteks)
Minat : Pengkajian Tari
Para Penguji :
1. Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum (Ketua Dewan Penguji)
2. Dr. Katarina Indah Sulastuti, S.Sn., M.Sn (Pembimbing)
3. Prof. Dr. Drs. RM. Pramutomo, M.Hum (Penguji)
Tari Denok merupakan tari kreasi yang diciptakan oleh Bintang Hanggoro Putra pada tahun 1991. Terciptanya tari ini dilatarbelakangi dari penelitian beliau bersama rekan-rekan dosen UNNES yang pada saat itu tidak ditemukan adanya bentuk tarian khas Semarangan, maka dari itu tari Denok diciptakan bertujuan untuk memunculkan bentuk tari khas Semarangan melalui Kesenian Gambang Semarang sebagai sumber inspirasinya, hal ini dikarenakan tahun 1991 hanya Kesenian Gambang Semarang yang masih tertinggal sehingga menjadikannya sebagai inspirasi dalam menciptakan tari Denok. Selain untuk memunculkan bentuk tari khas Semarangan tujuan mendasar dalam menciptakan tari Denok yaitu agar Kota Semarang memiliki kekhasan gaya tari yang menjadi ciri untuk menandai identitas sebagai pembeda dengan wilayah lain.
Keberadaan tari Denok memiliki peran penting dalam memperkuat eksistensi seni tari di Kota Semarang. Tari ini tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga berfungsi sebagai sumber inspirasi dan acuan bagi para koreografer dalam menciptakan karya-karya tari berbasis Denok sehingga muncul tari kreasi baru seperti tari Denok Deblong dan tari Geol Denok. Berdasarkan fenomena tersebut kekhasan gaya tari yang dimunculkan dalam tari Denok menjadi hal yang menarik untuk diangkat dalam penelitian ini, karena karya tari ini menjadi awal pijakan terciptanya pengembangan tari kreasi di Kota Semarang, maka penelitian ini difokuskan lebih lanjut pada upaya mengidentifikasi pertumbuhan seni tari dalam konteks wilayah budaya tertentu sebagai bagian dari proses pembentukan identitas daerah oleh sebab itu penelitian ini berjudul “Tari Denok karya Bintang Hanggoro Putra (Kajian Teks Dan Konteks)”.
Penelitian ini mengungkap tentang Kesenian Gambang Semarang menjadi inspirasi dasar dalam penciptaan tari Denok, analisis gaya tari Denok karya Bintang Hanggoro Putra, serta mengapa tari Denok membawa pengaruh terhadap penciptaan tari di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analitik. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan etnokoreologi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan 7 tahapan metode dari Kurath. Mengungkap tentang Kesenian Gambang Semarang menjadi inspirasi dasar dalam penciptaan tari Denok menggunakan teori bentuk pertunjukan dari Sal Murgiyanto, selanjutnya untuk menjawab permasalahan tentang analisis gaya tari Denok dipaparkan terlebih dahulu tentang bentuk tari. Untuk menjawab tentang bentuk tari menggunakan teori Sumandiyo Hadi. Penjabaran mengenai analisis gaya tari menggunakan teori Alan Lomax, selanjutnya hasil analisis gaya dalam tari Denok menghasilkan pencatatan gerak yang menggunakan penulisan notasi laban. Untuk menjawab permasalahan tentang pengaruh tari Denok terhadap penciptaan tari di Kota Semarang menggunakan teori Louis Gottschalk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Denok memiliki keterkaitan antara aspek tekstual dan kontekstual. Secara tekstual, tari Denok menampilkan gaya tari yang dipengaruhi oleh karakteristik masyarakat dan lingkungan pesisir Kota Semarang. Gaya gerak yang asimetris, penggunaan ruang yang luas, serta gerakan meliuk dan mengayun merepresentasikan sifat keterbukaan masyarakat pesisir dan fenomena alam pantai. Gerak jongkok dan berdiri juga mencerminkan kondisi geologi Kota Semarang yang memiliki daerah patahan.
Secara kontekstual, tari Denok menjadi pelopor dan referensi bagi perkembangan tari kreasi baru di Kota Semarang, seperti tari Denok Deblong tahun 1994 dan tari Geol Denok tahun 2012. Pengaruh ini terlihat dari kemiripan pemikiran melalui unsur gerak dan musik. Unsur gerak terlihat dari garap gerak tari Geol Denok yang mengembangkan motif gerak pokok tari Denok yaitu ngondhek, ngeyek, geol, dan jalan tepak. Sedangkan unsur musik dibuktikan melalui tari Geol Denok dan tari Denok Deblong yang tetap berakar pada lagu Gambang Semarang dengan aransemen baru yang lebih dinamis. Pengaruh tari Denok terhadap perkembangan tari di Kota Semarang juga didukung oleh tiga faktor yaitu faktor musik yang dilihat dari konsistensi dalam penggunaan musik Gambang Semarang, faktor lingkungan yang menjadikan tari Denok sebagai acuan awal, dan faktor sosial yang menempatkan tari ini dalam konteks pariwisata. Dengan demikian, tari Denok tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga sebagai representasi identitas budaya masyarakat pesisir di Kota Semarang.
