SORA: Performatif Intermedia Seni dalam Interpretasi Fenomena Daydream Sebagai Ruang Reflektif – Ujian Proposal Wildan Nurul Hidayat
PPS-ISI-SKA – Program Pascasarjana Program Magister Seni, Institut Seni Indonesia Surakarta, mengadakan Ujian Akhir Penciptaan Seni untuk Wildan Nurul Hidayat atau akrab dipanggil Kibi. Topik yang diangkat adalah fenomena masyarakat urban khususnya yang ada di Kota Bandung dengan berbagai macam jenis isu-isu kesenjangan sosial didalamnya. Ujian ini dilaksanakan pada hari Jumat, 20 Februari 2026, pukul 09.00-11.00 WIB bertempat di Ruang Sidang Atas Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta. Dr. Sn. Angga Kusuma Dawami, S.Sn., M.Sn. bertindak sebagai ketua penguji, didampingi oleh Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum sebagai pembimbing, dan Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si. sebagai penguji. Proses penciptaan ini mengeksplorasi sebuah instrumen baru yang digarap sebagai media ungkap gagasan utama yang diangkat.
Penciptaan karya ini mengedepankan integrasi elemen seperti bunyi, tubuh, dan rupa sebagai satu kesatuan media ungkap yang berperan menjadi instrumen dalam konteks karya musik. Instrumen baru yang digarap diberi nOma’ yang berangkat dari kata “Nomaden”, diharapkan instrumen ini dapat berpindah-pindah dalam performatifnya dan bisa beradaptasi dalam panggung manapun. Karya ini berangkat pada satu pengalaman empirik yakni daydream atau biasa disebut melamun, hal ini dilakukan pengkarya sebagai salah satu bentuk refleksi atas apa yang dilihat dan menjadikan sebuah cerminan hidup yang lebih baik. Persimpangan lampu lalu lintas di Jl. Soekarno Hatta – Kiara Condong, Bandung, yang telama di Indonesia yakni sekitar 800 detik per lampu merah, menjadi pijakan utama bagaimana pengkarya melihat mengupas dan melihat Bandung lebih dalam. Melalui persimpangan inilah yang menjadi gerbang untuk melihat isu-isu kesenjangan didalamnya seperti kesenjangan ekonomi, kesenjangan pendidikan, kesenjangan moral, dan fenomena lainnya yang menyangkut paut masalah gender (Perempuan) dan sebagainya.
Proses penciptaan terwujudnya instrumen
Metode penciptaan karya ini dibagi menjadi tiga bagian: eksplorasi, eksperimentasi, refleksi. Metode ini merupakan hasil rangkaian proses kreatif pengkarya selama proses kekaryaannya. Berawal dari eksplorasi, pengkarya berusaha menginventarisir bunyi, material, serta unsur-unsur musikal dan unsur pertunjukan lainnya sepeti tata cahaya, ruang artistik, amplifikasi audio, dan dramaturg. Berlanjut pada eksperimentasi, pengkarya mengedepankan poin utama komposisi dan çapadan yang diraih, maka dari itu proses eksperimentasi ini sangat panjang karena memerlukan pencarian yang bersifat “trial and error” untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan bunyi dan capaian yang lain selama proses kekaryaan berlangsung. Terakhir proses refleksi, pengkarya lebih mengepankan proses ini menjadi ruang kodifikasi komposisi yang akan disajikan arena dari sinilah pengkarya bisa mengatur dan merasakan pertimbangan estetika bunyi, ruang, dan dramaturg untuk kekaryaan yang utuh.
Penciptaan karya ini diharapkan menjadi sebuah tawaran baru dalam khazanah penciptaan karya seni khususnya dalam dan penciptaan musik, juga diharapkan isu yang diangkat bisa memantik beberapa pihak untuk mengelola tatanan kemanusiaan yang lebih baik dimanapun itu, khususnya di Indonesia.



