Sembahyang dalam Dramatari Wayang Topeng Malangan Lakon Dhalang Patah Kudanarawangsa: Relasi Perilaku Religius dan Perilaku Estetik – Ujian Tugas Akhir S2 Hadzrat M. M. Zulfikar
Sembahyang dalam Dramatari Wayang Topeng Malangan Lakon Dhalang Patah Kudanarawangsa: Relasi Perilaku Religius dan Perilaku Estetik
Hadzrat M. M. Zulfikar
232111007
“Belajar topeng, ya, belajar ngaweruh, mempelajari hal-hal spiritual. Mulai hendak menari, mandi di sumber, dirapal doa, itu salah satu upaya, tidak hanya topeng sebagai bentuk tari saja, tetapi urusan panggilan dengan Tuhan. Seperti Hayam Wuruk sebagai Siwanataraja (Raja Penari, menari Dewa Siwa) ataupun Sri Gajayana, seolah-olah dia seperti Dewa Siwa. Maka dari itu, konsep cerita Panji memiliki tokoh Klana Sewandana, Panji Asmarabangun, Sekartaji, tokoh antagonis-protagonis, seolah-olah kita harus seperti dia. Ini tidak hanya sekedar melihat topengnya saja secara tubuh wadag, tetapi secara spirit atau spiritual. Rangkaian penghayatan setiap spirit gerak sebagai sinau urip disebut sembahyang oleh masyarakat Kedungmonggo”
(Suroso, wawancara 8 Mei 2025)
“Manawi gangsa sampun sami mapan iramanipun, kedah lajeng dhengek sapemandeng, asta kaleh kapangku, sikut mengenceng, driji gandamaru; manawi gangsa ngelik lajeng ngaras sareng gong. Punika pralambang: manawi manungsa sampun lenggah dumadi, salam taklim, lajeng amawasa kanthi kapurunan, ingkang ngantos kacepeng guthitanipun. Dununging kawula gusti yen saged tamat dumugi raos, lajeng manembaha dhateng ingkang Sipat Esa, mila dipun namekaken beksa, raosipun ambeg sawiji saha ningga, inggih punika piwulang yoga”
(Serat Wedhataya, NN 1923)
Narasi sembahyang dalam tradisi Wayang Topeng Malangan yang linear dengan tradisi Tari Surakarta menunjukkan bahwa menari sebagai ruang perjumpaan unsur raga dan roh. Sembahyang yang tidak terbatas pada tubuh merupakan gabungan antara praktik kehidupan religius dan spiritual sebagai stasiun kebijaksanaan. Nilai penting dari transmisi inisiasi, bimbingan spiritual, pengondisian suasana moral, dan estetika tradisional memungkinkan praktik permohonan nama Illahi menjadi mujarab dan bersatu dengan Illah.
Foto Tari Gunungsari oleh Peneliti di Punden Kedungmonggo
Gagasan tentang penyatuan dengan zat Tuhan memiliki korelasi tradisi pemikiran monisme dari Spinoza. Tuhan merupakan eksistensi yang tak terhingga; suatu substansi yang terkonstruksi atas unsur-unsur tak terhingga yang esensialis, abadi, dan tak terbatas kemudian dapat diamati dan dialami wujud substratnya seperti alam semesta. Gagasan tersebut mendorong untuk melakukan pembacaan ulang pada praktik tari khususnya tradisi Malangan tidak lagi menggunakan cara pandang Shad Darshana bagian Yoga seperti Serat Wedhataya, tetapi Vaisesika sebagai wujud pemahaman naturalistik. Alasan pembacaan dengan filsafat Hindu dilandasi pula dengan jejak arkeologis wilayah Sima masa kekuasaan Hindu-Buddha yang tepat di wilayah perkembangan Wayang Topeng Malangan.
Linearitas antara tradisi Malangan dan Surakarta dapat diidentifikasi pula dari kemiripan penempatan khusus hewan merak dan satuan linguistik seperti dalam gerak Merak Ngigel yang termaktub dalam Serat Kridhwayangga Pakem Beksa dan Merak Ngigel dalam tradisi Wayang Topeng Malangan. Terdapat perbedaan pada volume gerak yang lebih luas dan effort lebih besar pada tradisi Malangan dibandingkan dengan tradisi Surakarta. Kemiripan gerakan tersebut mendukung eksistensi pengaruh istana Surakarta Hadiningrat di wilayah Malang.
Hal tersebut disampaikan oleh Hadzrat Maulana Muhammad Zulfikar dalam sidang tesis di ruang sidang Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta, Rabu (10/9) di hadapan Prof. Dr. Sri Rochana Widyastutieningrum, S.Kar., M.Hum. sebagai penguji utama, Prof. Dr. Drs. RM. Pramutomo, M.Hum., sebagai pembimbing, dan diketuai oleh Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum.
Foto Wawancara Peneliti dengan Narasumber Ki Soleh Adi Pramono
Dalam penelitiannya yang bertajuk “Sembahyang dalam Dramatari Wayang Topeng Malangan Lakon Dhalang Patah Kudanarawangsa: Relasi Perilaku Religius dan Perilaku Estetik”, Zulfikar menegaskan, lakon Dhalang Patah Kudanarawangsa menunjukkan narasi sistem keimanan pada masyarakat lokal yang mengacu pada terminologi ibu bhumi bapa akasa atau kiasma. Interaksi yang kuat antara perihal ekstraterestrial dengan terestrial terdapat pada peristiwa kesadaran Panji Asmarabangun terhadap Dewi Sekartaji palsu. Sistem keimanan tersebut mempengaruhi perilaku religius yang berdampak pada perilaku estetik masyarakat setempat di Malang berupa praktik tari dalam Wayang Topeng Malangan.
Dalam ilmu etologi Desmond Morris, menurut laki-laki kelahiran Surabaya, 21 Januari 2000 ini, penataaan sistem keimanan yang berdampak pada perilaku religius dan perilaku estetik berupa struktur narasi tari merupakan dorongan taksofilik. Sinyal biologis untuk memenuhi insting bertahan hidup melalui hierarki dominasi dan kesadaran situasi memicu manusia untuk melakukan dorongan taksofilik.
Implikasi dari pandangan etologi dalam konteks riset etnokoreologi menurut Zulfikar, memberikan pandangan tentang naluriah hidup harmonis yang dibentuk melalui taxophilic drive mampu memposisikan alam semesta sebagai an essential resources sustainable melalui apresiasi terhadap perihal immateri dan non-materi. Dengan demikian, para seniman, agamawan, dan ilmuwan saintek dapat melakukan sinergi bersama melalui paradigma tertentu sehingga terjadi proses pembangunan dan perkembangan lebih cepat dan tepat. Dengan kesadaran yang kokoh tentang relasi tubuh, alam, dan Tuhan, kata mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta peminatan pengkajian tari ini, revolusi ruang epistemik dapat dilakukan lebih terstruktur dan lebih efektif.



