Sanggit Panggih Temanten Sebagai Busana Artwear Megar Mayang– Ujian Tugas Akhir Karya Seni Program Magister Puji Rahayu (232111037)
PPS-ISI-SKA – Program Pascasarjana Program Magister Seni, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, mengadakan Ujian Tugas Akhir Penciptaan Seni untuk Puji Rahayu Priyandani.Topik yang diangkat adalah Sanggit Panggih Temanten Sebagai Busana Artwear Megar Mayang. Ujian ini dilaksanakan pada hari Senin, 21 Juli 2025, pukul 14.00–18.00 WIB di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar. Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum. bertindak sebagai Ketua Penguji, didampingi oleh pembimbing Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum, dan penguji Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., M.Sn.
Penelitian ini mengeksplorasi motif hias panggih temanten dalam pernikahan adat Jawa tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga menyimpan simbol-simbol moral yang mendalam. Upacara ini menandakan sahnya pasangan secara adat dan menyampaikan nilai-nilai penting seperti keselarasan, sosial, edukasi, spiritual, dan ekonomi. Penelitian ini memiliki urgensi yang tinggi karena panggih merupakan bagian dari integral pernikahan adat Jawa yang kaya simbolisme dan makna. Pengalaman pribadi pengkarya yang menyaksikan keluarga dan orangtua pengkarya menyelenggarakan hajatan pernikahan dengan adat panggih, terutama pernikahan saudara, menambah dimensi emosional dan kultural yang signifikan. Topik yang diangkat dalam penelitian ini menjadi bekal berharga bagi pengkarya, ketika kelak melangsungkan pernikahan dengan adat yang sama.
Karya busana artwear yang dihasilkan tidak hanya menjadi representasi visual dari tradisi pernikahan Jawa, tetapi juga berfungsi sebagai media ekspresi artistik yang bermakna. Desain inovatif yang mengintegrasikan elemen budaya, simbolisme, dan estetika menciptakan karya yang relevan dalam konteks modern. Setiap elemen busana, mulai dari bentuk, warna, hingga motif, memiliki signifikansi yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya Jawa. Setiap karya menampilkan metafora visual kembar mayang, yang melambangkan perjalanan menuju kehidupan baru dan tanggung jawab individu dalam masyarakat. Enam busana dan enam scarf hasil reinterpretasi upacara panggih temanten yang diberi judul “Megar Mayang”, menciptakan simbolik baru yang menghubungkan tradisi dengan konteks modern.
Penciptaan karya ini bertujuan untuk menemukan nilai atau makna panggih temanten, merumuskan konsep dan melakukan reinterpretasi panggih temanten, menemukan metode penciptaan, dan mewujudkan karya busana artwear. Penelitian ini bertumpu pada metode Practice Based Research dengan eksperimen dan pendekatan estetika sanggit reinterpretasi. Tahapan dalam proses based research terdapat lima tahapan diantaranya; abstraksi, eksplorasi, eksperimen, pembentukan, dan pagelaran karya. Proses diseminasi karya dilakukan dengan performing art dan fashion show. Hasil dari penciptaan karya ini yaitu temuan berupa pola dan desain motif hias baru bersumber dari panggih temanten, penggunaan material bahan pewarna alami yang berasal dari uborampe panggih, dan sulam dari serat pelepah pisang. Penciptaan motif dan busana dibagi dalam tiga komponen yaitu gending pengiring, uborampe, dan prosesi adat. Penciptaan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam beberapa aspek sebagai alat untuk pelestarian budaya, inovasi desain, dan peningkatan kesadaran sosial.

