REPRESENTASI HIBRIDITAS DALAM BATIK HOKO SERIES KARYA BAYU ARIA – Ujian Kelayakan Tesis Shintaningrum Anisa Subagya
UJIAN KELAYAKAN PENGKAJIAN TESIS
Tanggal Ujian : 20 Januari 2026
Lokasi Ujian : ISI Surakarta
Nama : Shintaningrum Anisa Subagya
NIM : 232111012
Minat : Pengkajian Seni Rupa
Ketua Penguji : Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum
Dosen Penguji : Dr. Aan Sudarwanto, S.Sn., M.Sn Dosen
Pembimbing : Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum
Penelitian ini mengkaji salah satu karya dari seniman Bayu Aria yang bernama Batik Hoko Series sebagai objek penelitian. Karya ini pada awalnya bernama Batik Hoko Ntul yang muncul pada tahun 2010 sebagai batik tertua yang diciptakan oleh seniman Bayu Aria dan menjadi awal perjalanan dari Hotwax Studio. Pada awalnya, batik ini diberi nama Batik Hoko Ntul yang memiliki kepanjangan Batik Hoko Bantul dan berganti nama menjadi Batik Hoko Series pada tahun 2014.
Batik Hoko Series bukanlah sebuah motif namun sebuah gaya/genre atau nuansa. Apapun bentuk motifnya jika batik tersebut berwarna-warni dan memiliki tata pola motif batik hokokai Pekalongan maka dapat disebut sebagai Batik Hoko Series. Kendati demikian, dalam karya ini tidak hanya menghadirkan gaya atau nuansa yang terinspirasi dari batik hokokai Pekalongan saja, namun seniman Bayu Aria juga memadukannya dengan unsur batik klasik Yogyakarta dan teknik batik lukis Tamansari Yogyakarta.
Perpaduan dari beberapa jenis batik tersebut menjadikan Batik Hoko Series sebagai karya hibrid yang merepresentasikan konsep hibriditas. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan konsep hibriditas dalam Batik Hoko Series serta menelusuri struktur dan komposisi visual motif dan makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan teori hibriditas dari Homi K Bhabha , teori estetika dari Clive Bell dan teori semiotika dari Roland Barthes dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan studi dokumen.


