Pascasarjana ISI Surakarta Hadiri Seminar Internasional Program Joint/Double Degree di Universitas Brawijaya
PPSISISurakarta – Malang — Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang diwakili oleh Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., M.Sn. dan Dr.Sn. Angga Kusuma Dawami, S.Sn., M.Sn. mengikuti kegiatan Seminar Pascasarjana bertajuk “Mendorong Daya Saing Global dalam Pendidikan Pascasarjana melalui Program Gelar Bersama (Joint/Double Degree)” yang diselenggarakan pada 2 Februari 2026 bertempat di Auditorium Lantai 2, Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya.
Seminar ini menghadirkan para akademisi dan praktisi pendidikan tinggi nasional maupun internasional, antara lain Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T., Dr. Agam Bayu Suryanto, S.E., M.BA (LPDP), Prof. Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc.F.Trop., Prof. Dr. Zalilah Mohd Shasiff, dan Prof. Dr. Yu-Cheng Chen. Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam membahas kebijakan, konsep, serta implementasi program internasionalisasi pendidikan pascasarjana melalui skema Joint Degree, Double Degree, dan Dual Degree.
Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan bahwa program gelar bersama harus berlandaskan prinsip internasionalisasi, kesetaraan, saling menguntungkan, serta rekognisi yang saling berhubungan. Secara konseptual, kolaborasi antaruniversitas harus dibangun melalui kemitraan yang jelas, didukung oleh kesesuaian kurikulum, kapasitas institusi, serta legalitas administrasi yang kuat.
Dijelaskan pula bahwa implementasi program Joint atau Double Degree tidak diperkenankan membentuk kurikulum baru, melainkan mengintegrasikan kurikulum yang telah eksisting dan terdaftar di PDDikti, disertai MoU dan MoA yang secara spesifik mengatur kerja sama akademik, pengakuan mata kuliah, serta mekanisme evaluasi. Selain itu, keberadaan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) menjadi bagian penting dalam mendukung rekognisi lulusan.
Prof. Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc.F.Trop. menekankan bahwa keberhasilan program Joint/Double Degree memerlukan komitmen jangka panjang dan kesiapan institusi, termasuk perencanaan akademik lintas semester, integrasi mata kuliah, serta kesesuaian major. Salah satu model kolaborasi awal yang dinilai paling memungkinkan untuk dikembangkan adalah joint supervision dan joint research, sebelum melangkah ke skema dual atau double degree.
Sementara itu, Dr. Agam Bayu Suryanto, S.E., M.BA dari LPDP menyampaikan bahwa LPDP mendukung program Double Degree dan Joint Degree, dengan ketentuan adanya kerja sama resmi antarperguruan tinggi dan masa studi maksimal 24 bulan. Skema afirmasi memungkinkan fleksibilitas bidang studi, sedangkan peserta reguler dan parsial tetap harus memenuhi ketentuan universitas tujuan.
Melalui partisipasi dalam seminar ini, Pascasarjana ISI Surakarta diharapkan dapat memperkuat strategi internasionalisasi pendidikan, membuka peluang kerja sama akademik global, serta meningkatkan daya saing lulusan pascasarjana di tingkat internasional, khususnya melalui pengembangan model kolaborasi yang relevan dengan karakteristik pendidikan seni dan budaya.

