Nahlilke Wong Nggantung:Penciptaan Film Gunungkidulan – Ujian Pergelaran Karya Seni dan Terbuka S3 Sdr. Tunggul Banjaransari

Ujian Pergelaran Karya Seni dan Terbuka Sdr. Tunggul Banjaransari mahasiswa S3 Pascasarjana ISI Surakarta diselengggarakan pada tanggal 17 Juni 2025 bertempat di Gedung Multri Matra (SBSN) Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Surakarta dengan judul Disertasi Nahlilke Wong Nggantung:Penciptaan Film Gunungkidulan.
Susunan dewan penguji:

  1. Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum. (Ketua Penguji)
  2. Dr. Drs. Budi Setiyono, M.Si. (Seketaris)
  3. Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn. (Promotor)
  4. Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum. (Ko Promotor I)
  5. Dr. Ranang Agung Sugihartono, M.Sn. (Penguji)
  6. Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum. (Penguji)
  7. Dr. Sunardi, S.Sn., M.Sn. (Penguji)
  8. Dr. Gede Putu Wiranegara, M.Sn. (Penguji)
  9. Dr. Armantono, M.Sn. (Penguji)

Dalam ujiannya Tunggul menyampaikan bawah disertasinya memuat penjelasan tentang proses penciptaan film berjudul Nahlilke
Wong Nggantung. Objek penciptaan film ini adalah prosesi tahlilan untuk pelaku gantung diri di Gunungkidul. Gantung diri di Gunungkidul atau disebut sebagai pulung gantung sudah memiliki ikatan budaya dengan masyarakatnya sejak abad 14-an. Pulung gantung telah menjadi simbol budaya kaitannya dengan penyajian perangkat tertentu kepada pencipta-nya., memiliki kemiripan pola dengan penyajian hasil bumi yang digantung (ngendat tali murdha), sebagai ungkapan kepasrahan dan atau wujud terima kasih kepada pencipta. Kini, di Indonesia yang media massa termasuk film menjadi corong utama informasi, membingkai pulung gantung sebagai peristiwa horor yang mampu menjadi ancaman bagi warga sekitar maupun warga kota.

Qrcode dan cuplikan Film Lamun Sumelang


Belakangan ini, mulai bermunculan prosesi tahlilan untuk pelaku gantung diri di Gunungkidul, Tahlilan ini menjadi simbol peredaman citra yang dibentuk oleh media massa. Film Nahlilke Wong Nggantung bertujuan untuk membentuk citra yang positif
berdasarkan sudut pandang Gunungkidulan. Proses penciptaan film ini menggunakan model penciptaan Gunungkidulan yang menempatkan tahapan petani Gunungkidul dalam melindungi, merawat, dan membentuk aset hasil bumi-nya. Tahapan kerja
tersebut diadaptasikan ke dalam model penciptaan film, yang kemudian menjadi tahapan kerja sebagai berikut; 1) proses pengembangan ide menjadi bentuk, karakterisasi, tangga dramatik, dan skenario film menggunakan pendekatan memedi
sawah, 2) proses produksi film menggunakan pendekatan ngandhangi ingon-ingon sebagai representasi rancang bentuk dunia artistik secara keseluruhan, 3) finalisasi gambar menggunakan pendekatan kaca lan gedheg sebagai suatu proses pembingkaian gambar, untuk membentuk suatu peristiwa tentang rumah secara utuh. Ketiga tahapan tersebut merupakan upaya untuk menciptakan film yang kontekstual tentang pulung gantung dan masyarakat Gunungkidul.