Majâng Untingan: Ekspresi Musikal Cacca’an Nelayan Muncar Banyuwangi – Ujian Proposal S2 Achzana Ilhamy

PPS-ISI-SKA – Program Pascasarjana Program Magister Seni, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, mengadakan Ujian Proposal Penciptaan Seni untuk Achzana Ilhamy. Topik yang di angkat adalah Majâng Untingan: Ekspresi Musikal Cacca’an Nelayan Muncar Banyuwangi. Ujian ini dilaksanakan pada Hari Senin, 02 Maret 2026, pukul 13.00-15.00 WIB di Ruang Sidang Atas PASCASARJANA Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Dr. Aries Budi Marwanto., S.Sn., M.Sn. bertindak sebagai ketua penguji, didampingi oleh pembimbing Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum dan penguji Dr. Aris Setiawan., S.Sn., M.Sn. Penelitian ini berbicara tentang tradisi lisan yang berkembang di kalangan nelayan Muncar, khususnya dalam bentuk ekspresi vokal selama proses penangkapan ikan, menunjukkan adanya pola musikal yang terstruktur. Salah satu bentuk ekspresi tersebut adalah praktik Untingan atau Cacca’an yang dilakukan nelayan saat menarik jaring secara kolektif di laut lepas.

Tradisi Untingan atau Cacca’an melibatkan teriakan-teriakan berirama yang berfungsi ganda: sebagai alat koordinasi kerja sekaligus mekanisme untuk mempertahankan semangat kelompok. Vokal ini memiliki struktur musikal yang jelas, dengan unsur repetisi, variasi, dan responsorial antara pemimpin kelompok dengan anggota lainnya. Pola-pola musikal ini berkembang secara organik melalui proses transmisi lisan antar generasi nelayan. Dari segi konten verbal, teriakan dalam Cacca’an menggunakan kosakata khusus seperti andeng alengantal godeng, dan kurting yang memiliki makna operasional dalam konteks kerja nelayan. Meskipun secara semantik bersifat arbitrer, frasa-frasa ini berfungsi efektif sebagai komando kerja sekaligus penanda ritmik. Ada identifikasi bahwa sistem vokal ini mengandung interval melodis tertentu yang cenderung konsisten, membentuk semacam “skala” musikal tradisional yang khas bagi komunitas nelayan Muncar.

Aspek sosial dari tradisi Cacca’an  menunjukkan bagaimana praktik musikal berperan dalam membentuk solidaritas kelompok. Intensitas dan kualitas vokal Cacca’an berkorelasi dengan produktivitas kerja kolektif. Fenomena ini menawarkan peluang untuk pengembangan model seni pertunjukan yang berbasis pada etos kerja komunitas maritim. Pengkarya mengamati ada nilai-nilai ekologi dan filosofi yang terkandung pada aktivitas Cacca’an.

Nilai-nilai tersebut yaitu: nilai ketergantungan kepada alam, nilai gotong royong, nilai kerukuran, nilai tanggung jawab kolektif, dan nilai relijius terhadap laut. Nilai tersebut nampak jelas terbangun dengan baik. Kekompakan dan upaya menjalin erat rasa kekeluargaan dalam sebuah perkumpulan kapal nelayan. Berbagai nilai yang terkandung dalam kegiatan Cacca’an inilah pada kehidupan masyarakat saat ini jarang kita temui. Melemahnya pemahaman mengenai norma-norma kehidupan menjadikan manusia lebih berpemikiran konsumtif. Pergeseran pemikiran ini membuat nilai-nilai semangat juang yang tinggi untuk mendapatkan sebuah hasil yang maksimal, akan tergerus dengan pemikiran-pemikiran yang sangat instan. Diprediksi bahwa dikemudian hari akan terdeteksi perilaku-perilaku yang individual dan rasa menggampangkan.

Nilai-nilai tersebut akandiaplikasikan melalui bahasa panggung pertunjukan yang segar dan menyentuh. Majâng Untingan ini adalah sebuah interprestasi dari kehidupan masyarakat pesisir muncar yang di implemmentasikan dalam sebuah penciptaan konser musik tradisi. Pentas performatif akan disajikan di tepi pantai yang menangkap soundscape alam pesisir Muncar. Pengkarya nantinya akan berupaya menghasilkan sebuah ekspresi musikal yang berorientasi pada medium kesenian-kesenian yang tumbuh dan berkembang di Muncar Banyuwangi. Pemanfaatan ini, upaya untuk memaksimalkan kemampuan pengalaman artistik pengkarya dalam dunia seni musik tradisional. Dalam konteks yang lebih luas, karya ini merepresentasikan sistem pengetahuan lokal yang mencakup aspek meteorologi, oseanografi, dan manajemen sumber daya manusia, yang dibungkus dalam bentuk ekspresi musikal dalam panggung pertunjukan. Hal ini menjadikan penciptaan karya penting dalam konteks pengayaan khazanah seni tradisi Indonesia.