Estetikanisasi Saung pada Restoran Sunda di Bandung : Resiliensi Budaya pada Ruang Komersil – Ujian Tertutup S3 Edwin Widia
Selasa, 10 Februari 2026. Jam 08.30- 11.30 bertempat di ruang sidang Pascasarjana ISI Surakarta
Ujian Tertutup atas nama Edwin Widia – 213121001
Judul “ Estetikanisasi Saung pada Restoran Sunda di Bandung : Resiliensi Budaya pada Ruang Komersil”
Ketua Sidang : Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum.
Seketaris Sidang : Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A.
Promotor : Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum.
Ko Promotor : Dr. Siti Badriyah, M.Hum.
Penguji : Prof. Dr. Rahmanu Widayat, M.Sn.
Penguji : Dr. Drs. Budi Setiyono, M.Si.
Penguji : Dr. Agung Purnomo, S.Sn., M.Sn.
Penguji : Dr. Jamaludin, S.Sn., M.Sn.
Penguji : Dr. Titis Srimuda Pitana, S.T., M.Trop., Arch.
Pada ujian sidang tertutup disertasi ini merupakan hasil penyempurnaan dari sidang kelayakan, sehingga terjadi revisi pada sub judul. Namun kajian secara substansi tidak mengalami koreksi, yaitu fokus mengkaji transformasi Saung, yang secara historis merupakan shelter petani di lingkungan agraris, menjadi elemen fungsi ruang dan simbol estetika dalam interior restoran Sunda di kawasan urban Bandung Raya. Transformasi ini tidak hanya berlangsung pada bentuk visual dan fungsi ruang, tetapi juga pada makna budaya dan pengalaman rasa ruang yang menyertainya.
Kajian berangkat dari pertanyaan mendasar, mengapa Saung selalu dihadirkan dalam restoran Sunda, dimana secara fungsi dan historis Saung berada di area persawahan. Fenomena ini menjadi menarik karena berkembangnya wilayah Bandung Raya dengan menyusutnya lahan pertanian sebagai habitat saung, namun saung justru bertumbuh dan membanyak dalam konteks ruang yang baru.
Melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan paradigma konstruktivistik. Penelitian ini memanfaatkan data emik yang diperoleh dari wawancara dengan petani, pemilik restoran, arsitek/desainer dan konsumen, yang diperkuat dengan observasi langsung pada sejumlah restoran Sunda, cafe, persawahan dan area publik/komersil di wilayah Bandung Raya. Praktik Estetikanisasi Saung dipahami sebagai suatu proses kreatif yang terus-menerus direproduksi untuk menghadirkan pengalaman budaya Sunda secara kontekstual, adaptif, dan relevan dengan dinamika konsumen masa kini,termasuk bagi individu yang sebelumnya tidak memiliki kedekatan dengan tradisi Sunda. Dalam proses ini, Saung tidak sekadar direplikasi sebagai bentuk bangunan saja, melainkan dihadirkan sebagai medium pengalaman kultural yang hidup dan partisipatif.
Melalui praktik desain interior dan pengelolaan ruang, Saung diposisikan sebagai objek budaya yang dinamis, yang memungkinkan keberlanjutan budaya Sunda, yakni dimensi afektif yang terwujud melalui pengalaman ruang. Dengan demikian, estetikanisasi tidak berfungsi sebagai komodifikasi semata, melainkan sebagai strategi reproduksi makna dan pengaktifan kembali memori kolektif budaya Sunda dalam konteks urban kontemporer.
Saung restoran Ponyo Malabar
Disertasi ini menunjukkan bahwa estetikanisasi Saung berperan sebagai mekanisme resiliensi budaya Sunda di kawasan Bandung Raya. Ketahanan tersebut terwujud melalui kemampuan Saung untuk beradaptasi secara simbolik dan material, tanpa kehilangan makna dan nilai kulturalnya. Dalam lanskap urban yang terus berubah, Saung hadir sebagai ruang pengalaman yang menjembatani tradisi dan modernitas, serta mempertahankan keberlanjutan identitas melalui praktik estetikanisasi ruang yang terus dinegosiasikan.
Berbagai kritik, koreksi, dan masukan dari para penguji, khususnya terkait dengan data sebagai pendukung metodologi, menjadi catatan penting yang akan ditindaklanjuti oleh peneliti. Masukan tersebut dipandang sebagai bagian dari proses akademik yang konstruktif guna meningkatkan kualitas, ketajaman analisis, dan pertanggungjawaban ilmiah dalam tahapan penyempurnaan disertasi menuju sidang terbuka, dimana dalam sidang ini dengan bertambahnya penguji, maka kualitas koreksi dan masukan menjadi lebih fokus dan mendalam.

