Ekspresi Simbolik Janin dalam Tembang Macapat Maskumambang Pada KaryaSeni Patung – Ujian Tugas Akhir Karya Seni S2 Noniek Putri Pariska

Surakarta, Kamis 14 Agustus 2025 – Telah dilaksanakan ujian tugas akhir S2 penciptaan karya senivatas nama Noniek Putri Pariska NIM. 232111061, mahasiswa Program Studi Seni Program Magister, Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI) Surakarta.
Ujian ini dilaksanakan di Watu Gambir Park, Dsn. Telap, Ds. Karang, Kec. Karangpandan, Kab. Karanganyar, Prov. Jawa Tengah. Ujian ini dihadiri oleh tim penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum. selaku ketua penguji, Dr. Handriyotopo, M.Sn. sebagai penguji, serta Dr. Bagus Indrayana, M.Sn selaku pembimbing.
Karya-karya dalam pameran ini berangkat dari sebuah kesadaran bahwa kehidupan manusia dimulai jauh sebelum kelahiran. Fase prenatal bukan hanya proses biologis, melainkan ruang hening yang sarat makna spiritual, di mana tubuh, jiwa, dan takdir mulai terjalin. Inspirasi utamanya bersumber dari tembang macapat Maskumambang, yang dalam tradisi Jawa merekam fase
awal perjalanan manusia dan membuat pesan moral tentang kasih sayang, bukti, dan keterhubungan dengan alam semesta.
Dalam proses kreatif ini, pengkarya menggunakan pendekatan sanggit dengan ekspresi simbolik memadukan idiom tradisi, metafora visual, dan media kontemporer. Karya ini memadukan kekuatan ekspresi simbolik dengan warisan sastra lisan Jawa, yakni tembang macapat Maskumambang yang bersumber dari Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Fokus utama karya ini adalah pada fase-fase perkembangan janin sebagai metafora atas nilai-nilai moral, spiritual, dan pendidikan karakter sejak dini, yang disampaikan secara simbolik melalui bentuk patung tiga dimensi. Bentuk-bentuk janin, rahim, gentong tanah liat, baskom, botol kaca, hingga telur emas menjadi bahasa rupa yang empresentasikan keseimbangan antara keseimbangan antara biologis dan spiritual, antara moderenitas antara biologis dan spiritual, antara modernitas dan akar tradisi.


Setiap karya menghadirkan simbol warna yang berpaut pada filosofi Sedulur Papat Limo Pancer, menegaskan bahwa sejak dalam kandungan, manusia sudah ditemani kekuatan yang melindungi, membimbing, dan memberi arah hidup. Pemanfaatan teknologi video mapping sebagai media presentasi karya patung untuk memperluas ruang tafsir. Pendekatan reflektif terhadap fenomena
kontemporer, khususnya krisis nilai dalam hubungan orang tua dan anak sebagai konteks pengkuatan pesan karya.
Melalui karya ini, pengkarya mengajak penonton untuk merenung: bahwa keberadaan kita tidak hanya dibentuk oleh daging dan darah, tetapi juga oleh cahaya, ingatan, dan do’a yang mengiringi sejak dalam rahim. Seni menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara cerita leluhur dan kesadaran generasi sekarang sebagai pengingat bahwa kehidupan adalah anugerah yang harus
dijaga, dihormati, dan dimaknai sejak awal.