Ekspresi Gerak dan Bentuk Pertunjukan Kesenian Reyog Surya Netra Budaya di Yayasan Panti Asuhan Tunanetra Aisyiyah Ponorogo – ujian Proposal S2 Harganingtyas Estin Marcellina Putri Zam-Zam

     Program Pascasarjana Program Magister Seni, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, mengadakan Ujian Proposal untuk Harganingtyas Estin Marcellina Putri Zam-Zam. Topik yang diangkat dalam proposal penelitian ini adalah Ekspresi Gerak dan Bentuk Pertunjukan Kesenian Reyog Surya Netra Budaya di Yayasan Panti Asuhan Tunanetra Aisyiyah Ponorogo. Ujian ini dilaksanakan pada hari Selasa, 18 November 2025, pukul 10.00–12.00 WIB di Ruang Sidang Atas Pascasarjana ISI Surakarta. Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn. bertindak sebagai Ketua Penguji, didampingi oleh pembimbing Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn., serta penguji Dr. Slamet, M.Hum.

               Penelitian ini mengkaji ekspresi gerak para penari tunanetra dalam kelompok Reyog Surya Netra Budaya, sebuah komunitas kesenian inklusif yang berlatih dan berkarya di Yayasan Panti Asuhan Tunanetra Aisyiyah Ponorogo. Kegiatan berkesenian ini memperlihatkan bagaimana keterbatasan visual tidak menghalangi kemampuan mereka dalam membentuk ekspresi gerak, ritme, dan dinamika tubuh melalui penanda suara, ingatan gerak, serta kedekatan emosional dengan pelatih dan sesama penari. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana pola-pola gerak tersebut membangun bentuk pertunjukan Reyog yang mereka tampilkan, dan bagaimana tubuh tunanetra menafsirkan, menerjemahkan, sekaligus mengekspresikan karakteristik tari Reyog.

                Kajian ini juga melihat bagaimana bentuk pertunjukan Reyog versi komunitas tunanetra berkembang melalui adaptasi tertentu, seperti pemanfaatan aba-aba vokal, ritme kendang sebagai penanda utama, serta pendampingan fisik pada tahap awal latihan. Bentuk pertunjukan kemudian dianalisis melalui struktur penyajiannya, komposisi gerak, penggunaan properti, dan hubungan antarpenari dalam ruang pentas. Penekanan diberlakukan pada bagaimana ekspresi gerak muncul tidak hanya dari kemampuan teknik, tetapi dari sensitivitas tubuh dan kesadaran ruang yang dibangun melalui latihan berulang.

                 Metode penelitian kualitatif digunakan, dengan pendekatan observasi langsung pada sesi latihan dan pertunjukan, wawancara mendalam dengan pelatih, penari, serta pengurus yayasan, dan dokumentasi visual berupa foto dan video. Observasi partisipatif dilakukan untuk memahami proses internalisasi gerak oleh penari tunanetra, termasuk strategi pengajaran, proses pembentukan pola gerak, dan dinamika interaksi selama latihan. Analisis kemudian diarahkan pada hubungan antara teknik gerak, pengalaman tubuh tunanetra, dan makna gerak dalam produksi estetika pertunjukan Reyog versi mereka.

                 nHasil sementara penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan Reyog yang dibawakan komunitas Surya Netra Budaya tidak hanya menjadi medium ekspresi seni, tetapi juga ruang pemberdayaan yang memperkuat rasa percaya diri dan identitas kultural para penarinya. Ekspresi gerak yang mereka tampilkan memiliki karakter khas yang dibentuk oleh sensitivitas tubuh non-visual, menjadikan pertunjukan ini sebagai model inklusi seni yang patut diapresiasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan kajian seni pertunjukan inklusif, memperkaya perspektif mengenai tubuh, gerak, dan ekspresi, serta mendorong perhatian lebih luas terhadap keberadaan komunitas seni tunanetra di Indonesia.