“DISKUSI PERFORMATIF: MINUM KOPI SEMBARI TENGOK KE BELAKANG (DRAMATURGI KE DRAMATURG)” – Ujian Terbuka Progam Doktor Hoirul Hafifi
PPSISISolo – Program Studi Seni Program Doktor, Fakultas Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Ujian Pertanggungjawaban Terbuka Karya Seni Hoirul Hafifi pada Sabtu (13/7) di Taman Eden Depan Dekanat Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta. Hadir dalam sidang tersebut sebagai ketua penguji yaitu Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum. sekaligus Direktur Pascasarjana ISI Surakarta; Dr. Drs. Budi Setiyono, M.Si. sebagai Sekretaris Penguji. Dr. Dr. Eko Supriyanto, M.F.A selaku Promotor dan Dr. Zulkarnain Mistortoify, M. Hum. sekalu Ko-Promotor; Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si., Prof. Dr. Sri Rochana W., S.Kar., M.Hum., Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto, Prof. Sardono W. Kusumo, Dr. Siti Nungki Kusumastuti, S.Sn., M.Sos. selaku penguji sidang.
Dalam Pertanggungjawaban Sidang Terbuka Karya Seni, Hoirul mempertahankan disertasinya yang berjudul “DISKUSI PERFORMATIF: MINUM KOPI SEMBARI TENGOK KE BELAKANG (DRAMATURGI KE DRAMATURG)”. Melalui ekplorasi pemahaman publik terhadap lima karya Arung Wardhana Ellhafifie, dramaturgi biografi dalam disertasi Hoirul dapat membuka paradigma alternatif melalui practice as reserach. Dramaturgi biografi dalam disertasi ini dioperasikan berdasarkan hasil riset yang berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga, blater (jawara lokal di Bangkalan), traumatic, posttraumatic growth, relasi kuasa, dan kota. Disajikan diluar gedung perkuliahan, dan disaksikan oleh masyarakat luas bersamaan dengan Festival Pasca Penciptaan 2024.
Karya Hoirul dapat dikatakan sebagai sebuah presentasi sekaligus representasi dari pengkarya sendiri yang terpinggirkan dari melihat hal-hal ideal dengan mengandalkan gerak tubuh sehari-hari. Beberapa tindakan yang dilakukan cenderung berupa kekerasan verbal ditujukan kepada diri sendiri dengan penafsiran tertentu. Potensi inovasi dan generatif dicari dari lima karya Ellhafifie yang dianggap gagal oleh publik. Pendekatan dan metode dalam disertasi ini berhubungan dengan memeriksa ulang perkembangan subjektif dan individu ke dalam riset artistik. Melalui konsep diskusi performatif dapat memungkinkan pengkarya semakin memperluas temuan dan pemahamannya, sekaligus untuk terus mempelajari dan mengkaji temuan-temuan disiplin ilmu lain yang saling terkait dengan dramaturgi.
Kesimpulan dari disertasi ini adalah konsep diskusi performatif sebagai ulang-alik antara penciptaan dan riset dengan memahaminya sebagai kerja studio; Minum Kopi Sembari Tengok ke Belakang (Dramaturgi ke Dramaturg), merupakan sistem operasi penemuan diri dengan menunjuk langsung biografi pengkarya sebagai ekspresi budaya akar kekerasan domestik keluarga, namun tetap berjuang menemukan individualisasi bagi dirinya.
Ada tiga hal yang menjadi keunikan dalam penciptaan Hoirul dari segi bentuk dan proses, yaitu (1) estetika yang dimaksud bukan pengertian umum, melainkan estetika yang berkaitan dengan estetika chaos (berantakan, acak, dan serampangan) dalam penataan. (2) Tindakan yang dipilih cenderung mengandung kekerasan langsung dengan banyak penyiksaan diri, yang dapat merujuk pada ranah performance daripada performing, di mana praktik presentasi lebih dominan daripada representasi. (3) Materi yang digunakan adalah objek yang realistis yakni materi dalam kehidupan sehari-hari seperti sikat lantai, deterjen, panci, wajan, alat pel, buku, yang dikelola sebagai materi presentasi, materi audiovisual, dan materi diskusi berkaitan dengan buku esai; sebagai media utama untuk didiskusikan. Konstruksi utama karya ini adalah memori-ingatan, mengacu pada perkembangan trauma psikologis pengkarya, yang kemudian menimbulkan harapan, cita-cita, dan keyakinan di masa depan, dapat mengubah dan menentukan ruang pertunjukan berdasarkan insting, persepsi, dan imajinasi yang berlanjut.
Sebagai penutup, Hoirul mengungkapkan, “jangan berkecil hati sepanjang menemukan hasil riset yang unik dan berbeda, karena bisa jadi soal narasi tersebut sebagai persepsi dan imajinasi pada sisi yang liyan, sangat memungkinkan terjadinya proses individuasi, yaitu pergeseran pusat psikis dari diri yang aprioris dan tidak sadar menuju ego yang sadar untuk terus berupaya semaksimal mungkin.” Hal ini menjadi bagian dari dunia seni dalam memandang bidang pasca-seni, yang diyakini menjadi konstituen, untuk terus berkelanjutan dalam mengembangkan pengetahuan, lanjutnya.
Penulis: AK. Dawami.


