Dinamika Estetika Teater Dulmuluk di Palembang Sumatera Selatan (1974–2024) – Ujian Tertutup Disertasi Tri Puji Handayani
Dinamika Estetika Teater Dulmuluk di Palembang Sumatera Selatan (1974–2024) – Disertasi Tri Puji Handayani
PPSISISKA – 11 September 2025 – Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Ujian Tertutup Disertasi bagi Tri Puji Handayani (NIM 213121003), mahasiswa Program Studi Seni Program Doktor. Disertasi berjudul “Dinamika Estetika Teater Dulmuluk di Palembang Sumatera Selatan (1974–2024)” ini dipromotori oleh Prof. Dr. Sri Rochana W., S.Kar., M.Hum. selaku Promotor, dengan Prof. Dr. Sarwanto, S.Kar., M.Hum. sebagai Ko-Promotor I, dan Dr. Sunardi, S.Sn., M.Sn. sebagai Ko-Promotor II.
Sidang yang digelar di Ruang Seminar Pascasarjana ISI Surakarta ini dipimpin oleh Prof. Dr. Sugeng Nugroho, S.Kar., M.Sn. sebagai Ketua Dewan Penguji, didampingi Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum. sebagai Sekretaris, serta anggota penguji: Prof. Dr. Nanik Sri Prihatini, S.Kar., M.Si., Dr. Koes Yuliadi, M.Hum., Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Prof. Dr. Soetarno, DEA.
Dalam penelitiannya, Tri Puji Handayani menelusuri perubahan bentuk, struktur, dan fungsi teater Dulmuluk di Palembang selama kurun waktu lima dekade terakhir. Penelitian ini menggunakan teori struktur dan tekstur pertunjukan George R. Kernodle, teori perubahan sosial Kuntowijoyo, serta pendekatan sinkronik John A. Walker. Temuan penting menunjukkan bahwa terdapat dua versi pertunjukan Dulmuluk yang masih bertahan hingga kini: versi semalam suntuk dengan narasi panjang dan nuansa tradisional, serta versi sedenget yang lebih ringkas, melibatkan pemain perempuan, dan adaptif terhadap ruang pertunjukan modern maupun media digital.
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa perubahan estetika Dulmuluk tidak sekadar adaptasi teknis, melainkan strategi komunitas seni untuk menjaga relevansi di tengah arus sosial, ekonomi, dan teknologi. Dulmuluk tetap memadukan unsur estetika Melayu–Islam sebagai fondasi, sekaligus membuka ruang inovasi agar tetap diminati masyarakat. Penelitian ini juga menggarisbawahi peran penting seniman-seniman Palembang seperti Wak Nang Nong, Kamaludin, Yek Mesir, Johar Saad, Wak Pet, dan Mang Benu dalam perjalanan transformasi estetika Dulmuluk.
Kontribusi penelitian ini memperkaya kajian seni pertunjukan tradisi, khususnya dengan menempatkan Dulmuluk bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai praktik budaya aktif dan dinamis dalam masyarakat kontemporer. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi akademisi, praktisi seni, maupun pemangku kebijakan dalam merancang strategi pelestarian dan pengembangan teater tradisional di era digital.
