Dies Natalis ISI Solo ke-61 : Harmony of Tradition and Innovation
PPSISISKA – Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar sidang senat terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-61 pada Selasa (05/07/2025) pukul 09.00 WIB, bertempat di Pendopo GPH Joyokusumo ISI Surakarta. Acara ini bertema The Harmony of Tradition and Innovation, Building Independence Towards the Future, mengandung harapan ISI Surakarta menjadi penanda arah dan semangat transformasi Surakarta ke depan di tengah arus globalisasi dan disrupsi digital.
“Pada Dies Natalis Institut Seni Indonesia Surakarta ke-61 tahun 2025 ini mengusung tema The Harmony of Tradition and Innovation, Building Independence Towards Future,” kata Rektor ISI Surakarta, Profesor I Nyoman Sukerna.
“ISI Surakarta sebagai agen perubahan ingin mengawal harmonisasi tradisi dan inovasi di bidang seni dan budaya dengan membangun kemandirian untuk menghadapi tantangan di masa depan.”
“Kolaborasi antara penggiat seni, dosen, mahasiswa, dan pemangku kepentingan yang bersinggungan langsung dengan dunia seni diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam merawat tradisi dan budaya di negeri ini,” lanjut Rektor ISI Surakarta.
Dalam kesempatan itu, Dr Eko Supriyanto menyampaikan orasi ilmiah berjudul : Melawan Garis Kuning, Melantas Memory of the World. Dalam orasinya, Kaprodi Koregrafi Inkuiri ISI Solo itu membuka paparan dengan ilustrasi peristiwa pascakonflik Provinsi Timor Timur yang mencapai puncaknya pada referendum tahun 1999.
Menurut Dr Eko Supriyanto, peristiwa tersebut menyebabkan pemisahan wilayah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang kemudian menjadi negara berdaulat dengan nama Republik Demokratik Timor Leste (República Democrática de Timor-Leste dalam Bahasa Portugal, atau Repúblika Demokrátika Timór-Leste dalam bahasa Tetun), yang bahasanya masih dipahami sebagian masyarakat di Kabupaten Belu hingga saat ini.
Momentum Dies Natalis ke-61 ISI Surakarta ini bukan hanya menjadi refleksi perjalanan panjang institusi dalam mengembangkan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk merumuskan arah baru di era transformasi digital. Dengan mengusung paradigma The Harmony of Tradition and Innovation, ISI Surakarta menegaskan komitmennya sebagai pusat unggulan akademik dan kreativitas seni yang berorientasi global, tanpa kehilangan akar tradisi lokal. Integrasi antara warisan budaya dengan inovasi teknologi diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan seni yang adaptif, progresif, dan berdaya saing internasional, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang mengedepankan keberlanjutan, kemandirian, serta pengakuan di kancah global.[]


