Dai: Reinterpretasi Fenomena Sijundai – Ujian Proposal Tesis Denni Fitria
Kamis, 29 Januari 2026 Program Pascasarjana Program Magister Seni, Institut Seni Indonesia Surakarta, menyelenggarakan Ujian Proposal Tesis Karya Seni oleh Denni Fitria, Nim 242111037. Proposal yang diajukan berjudul dai: reinterpretasi fenomena sijundai, yang mengangkat fenomena tubuh Perempuan dalam konteks budaya melayu Kampar, khususnya dampak fenomena sijundai. Ujian proposal ini dilaksanakan dengan bimbingan Dr. Matheus Wasi Bantolo, S.Sn M,Sn. selaku Dosen Pembimbing, dengan Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. sebagai Ketua Penguji, serta Prof. Dr. Drs. RM Pramutomo, M.Hum. sebagai Penguji.
Proposal tesis karya seni ini berangkat dari fenomena Sijundai dalam masyarakat Melayu Kampar yang secara kultural dipahami sebagai gangguan tubuh perempuan dan sering direspons melalui praktik kuratif, ritual, serta penertiban norma sosial. Tubuh perempuan dalam konteks ini tidak hanya diposisikan sebagai entitas biologis, melainkan sebagai ruang sosial, spiritual, dan kultural yang sarat dengan relasi kuasa, adat, agama, dan struktur heteropatriarki.
Melalui pendekatan fenomenologi tubuh, penciptaan ini memandang tubuh sebagai subjek pengalaman yang hidup, bukan semata objek visual atau simbolik. Penciptaan karya seni tari berjudul dai menjadi medium utama untuk merepresentasikan pengalaman tubuh perempuan yang mengalami tekanan, stigma, dan negosiasi identitas, sekaligus membuka ruang pembacaan baru yang lebih universal tentang tubuh, trauma, dan resistensi.
Secara artistik, karya ini berpijak pada praktik penciptaan berbasis riset, dialog tubuh, dan metode reinterpretasi, dengan memadukan pijakan gerak dari Silat Perisai dan Tari Pasombahan Kampar ke dalam bahasa Gerak. Melalui penciptaan ini, penciptaan karya tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai bentuk refleksi kritis terhadap cara tubuh perempuan dipahami, dikendalikan, dan dinegosiasikan dalam konteks budaya, serta sebagai upaya membuka wacana baru tentang tubuh perempuan sebagai ruang pengalaman, kekuatan, dan keberlanjutan makna.
