Bekal Bakal Batik – Ujian Tugas Akhir Karya Seni Nadya Kinasih
Pada hari ini, 20 Juli 2025, Nadiya Kinasih, NIM : 232111040 melaksanakan ujian tugas akhir karya seni S2 di tempat Desa Sidorejo Desa Sukoharjo dan Girirejo Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri dengan judul tesis BEKAL BAKAL BATIK
Dengan dihadiri para penguji sebagai berikut:
- Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum (Ketua Dewan Penguji)
- Dr. Eko Wahyu Prihantoro, S.Sn., M.Sn. (Pembimbing)
- Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A (Penguji)
“Bekal Bakal Batik” merupakan proses penciptaan seni di masyarakat terinspirasi dari ibu pengkarya sebagai pembatik. Batik dari kata obahing titik menumbuhkan imajinasi sebagai awal perbuatan bergerak pada bidang seni di masyarakat. Kata bekal memiliki maksud adalah bahan awal dan bakal adalah calon. Makna kata titik tersebut merupakan sesuatu yang akan berkelanjutan. Bekal Bakal Batik mengeksplorasi transformasi keilmuan pada komunitas pedesaan melalui seni sebagai ketahanan budaya. Filosofi proses membatik sebagai upaya membangun kembali ekosistem kesenian di beberapa desa di antaranya Sidorejo, Sukoharjo dan Girirejo. Ketiga desa tersebut dalam wilayah kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Konsep kekaryaan ini berakar pada pengalaman pribadi, pengaruh keluarga, dan upaya pemberdayaan komunitas, dimulai dari langkah-langkah kecil (“titik-titik”) hingga membentuk tindakan nyata (pola). Judul “Bekal Bakal Batik” secara metaforis merepresentasikan pengetahuan dan keterampilan pengkarya (“bekal”) sebagai fondasi bagi potensi seni masyarakat desa yang akan dikembangkan (“bakal”), dengan “batik” melambangkan proses kreatif menghasilkan karya yang kompleks dan bermakna.
Medium karya ini melibatkan partisipasi masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang, serta penggunaan alat musik tradisional dan properti lokal. “Bekal Bakal Batik” adalah sebuah refleksi dari pengalaman pribadi pencipta tentang perjalanan hidupnya di dunia seni dan masyarakat. Karya ini terinspirasi dari makna mendalam batik dan bertujuan melestarikan serta mengedukasi masyarakat tentang potensi seni dan budaya lokal. Penciptaan karya ini melibatkan kolaborasi dengan masyarakat di tiga desa: Sidorejo, Sukoharjo, dan Girirejo. Tujuannya adalah untuk menggunakan seni sebagai sarana memajukan desa, membangun relasi, dan menggali kearifan lokal.
- Desa Sidorejo: Pencipta berhasil menginisiasi kolaborasi antara berbagai komunitas seni dan generasi muda dalam sebuah pertunjukan. Awalnya, tantangan muncul karena masyarakat terbiasa dengan format pertunjukan tertentu. Namun, dengan pendekatan dan pemahaman, pencipta berhasil menggabungkan musik gamelan, terbang klasik, dan lesung, membuktikan fleksibilitas seni. Masyarakat desa menunjukkan sikap mandiri dan antusiasme yang tinggi.
- Desa Sukoharjo: Setelah berdiskusi dengan kepala desa, pencipta berkolaborasi dengan berbagai komunitas, seperti petani kopi, pengrajin anyaman bambu, penari Ketek Ogleng, dan komunitas Terbang Klasik. Pencipta menyadari bahwa para seniman dan pengrajin merasa kurang diperhatikan oleh pemerintah daerah. Oleh karena itu, ia membuka ruang kolaborasi, melibatkan anak-anak sekolah dasar, dan mempromosikan UMKM desa.
- Desa Girirejo: Di desa ini, pencipta menghadapi tantangan karena minimnya aktivitas seni. Ia berinisiatif membentuk sanggar untuk anak-anak dan mengolah kegiatan senam ibu-ibu menjadi sebuah tarian. Meskipun awalnya mendapat penolakan, para ibu akhirnya menikmati proses menari. Kolaborasi musik juga dilakukan dengan memanfaatkan alat musik tradisional, meskipun sempat terkendala kepergian komposer. Karya ini dibantu oleh dosen STKW Surabaya dan menjadi wujud dedikasi untuk mengubah stigma negatif masyarakat yang dijuluki “Ketek Saranggon.”
Secara keseluruhan, karya ini bukan hanya sekadar tugas akhir, melainkan bentuk dedikasi mendalam untuk pendidikan, refleksi bagi masyarakat, dan tanggung jawab untuk mengatasi masalah sosial melalui seni dan budaya.
Nilai Moral yang di temukan dalam proses penciptaan karya seni kepercayaan Masyarakat terhadap pengkarya. Hal itu terwujud dengan adanya masyarakata menyatakan untuk mengikuti atau setuju dengan dengan kekaryaan yang telah disusun dan bersedia dalam kebersamaan menciptakan karya seni berikutnya.
Anak- Anak yang masuk kedalam seni tirta Kinasih binaan pengkarya atas keprcayaan orang tua dalam memahami pendidikan seni yang di ajarkan di sanggar tirta kinasih dengan berbagai hal kemampuan anak berkesenian. Materi yang di sampaikan sanggar seni tirta kinasih gaya tari jawa timur, jawa tengah, jawa tengah, tari gaya betawi. Iniasi, make up body panting, menggambar, bermain musik gamelan, angklung, rebana, kentonganmembuat kostum dari bahan daur ulang.
Warga masyarakat banyak membantu turut menyediakan dan menghidangkan makanan dalam penyambutan tamu undangan dan dosen penguji. Niai kebersamaan yang muncul sikap gotong royong guyub rukun saling bahu membahu diantara masyarakat dalam proses penciptaan karya seni.
Memantik masyarakat untuk mengembangkan pengenalan prodak lokal seni kriya anyaman bambu yang di namakan senik sebagai tempat dan alat mengangku barang dengan di gendong. Memantik Masyarakat petani kopi dalam proses peningkatan umkm yang tergabung dalam pertunjukan


