Bekal Bakal Batik – Ujan Kelayakan S2 Nadiya Kinasih

Pada tanggal 16 Juni 2025 Pascasarjana ISI Surakarata menyelengarakan ujian kelayakan S2 atas nama Nadiya Kinasih dengan judul tesis Bekal Bakal Batik. Ujian ini dihadiri oleh tim penguji yaitu:

  1. Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum (Ketua Dewan Penguji)
  2. Dr. Eko Wahyu Prihantoro, S.Sn., M.Sn. (Pembimbing)
  3. Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A (Penguji)

Dalam ujiannya, Nadiya mengungkapkan bahwa karya seni berjudul “Bekal Bakal Batik” merupakan proses penciptaan seni di masyarakat terinspirasi dari ibu pengkarya sebagai pembatik. Batik dari kata obahing titik menumbuhkan imajinasi sebagai awal perbuatan bergerak pada bidang seni di Masyarakat. Kata bekal memiliki maksud adalah bahan awal dan bakal adalah calon. Makna kata titik tersebut merupakan sesuatu yang akan berkelanjutan. Bekal Bakal Batik mengeksplorasi transformasi keilmuan pada komunitas pedesaan melalui seni sebagai ketahanan budaya. Filosofi proses membatik sebagai upaya membangun kembali ekosistem kesenian di beberapa desa di antaranya Sidorejo, Sukoharjo dan Girirejo. Ketiga desa tersebut dalam wilayah kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Konsep kekaryaan ini berakar pada pengalaman pribadi, pengaruh keluarga, dan upaya pemberdayaan komunitas, dimulai dari langkah-langkah kecil (“titik-titik”) hingga membentuk tindakan nyata (pola). Judul “Bekal Bakal Batik” secara metaforis merepresentasikan pengetahuan dan keterampilan pengkarya (“bekal”) sebagai fondasi bagi potensi seni masyarakat desa yang akan dikembangkan (“bakal”), dengan “batik” melambangkan proses kreatif menghasilkan karya yang kompleks dan bermakna. Medium karya ini melibatkan partisipasi masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang, serta penggunaan alat musik tradisional dan properti lokal.

Menurut Nadiya, karya bekal bakal batik menggunakan pendekatan metode WASIS Waspada, Anteng, Supel. Ilingan, Semabada. Waspada atau waspada adalah sikap yang senantiasa melihat, mengamati dan memahami secara teliti dan hati-hati, Anteng adalah sikap tenang tenang, sedangkan kata yang berkesinambungan adalah kitiran. kata tersebut menjadi Anteng kitiran. Anteng kitiran dapat diidentikkan dengan perputaran bolang-baling. Anteng kitiran maksudnya tenang dalam bersikap dan cepat dalam berfikir. Supel adalah sikap mampu bergaul bersama semua lapisan masyarakat dengan baik tanpa memandang latar belakang. Ilingan Berasal dari kata iling atau menuang, maksudnya mampu memberikan pemahaman terhadap masyarakat secara detail agar dapat diterima secara utuh dan lengkap. Strategi yang paling sederhana adalah dengan berkomunikasi menggunakan bahasa yang mudah diterima dan jelas, walaupun membutuhkan waktu dan kesabaran. Sembada memiliki arti bertanggung jawab atas segala kemungkinan. Seseorang yang memiliki kemampuan lahir juga batin, mampu memberi dampak bagi orang-orang disekitarnya. Sikap sembada dimulai dari bertindak adil dan bijaksana dalam segala hal. Dalam proses penciptaan karya ini diharapkan juga dapat memberi dampak sikap bertanggung jawab pada setiap masyarakat situasi kondisi yang terjadi.
Pendekatan metode tersebut di pakai pengkarya menyadari proses penciptaan Karya Bekal Bakal Batik memakai 3 titik serta lintasan di tiga desa bersama masyarakat yaitu desa Sidorejo, Desa Sukoharjo dan Desa Girirejo. Penkarya menyadari Karakter masyarakat yang gampang-gampang susah memerlukan strategi khusus dan sikap yang tepat agar masyarakat bersedia menerima dan turut berperan serta dalam kegiatan yang telah direncanakan.

Metode penciptaan karya ini berbasis pada kearifan lokal, partisipasi warga, dan keberlanjutan.

  1. Pendekatan Partisipatif
    Pengkarya sejak berpindah ke desa tiga tahun lalu mulai terlibat berpartisipasi langsung dalam kegiatan masyarakat di desa-desa. Sehingga dalam perencanaan penciptaan karya ini akan melibatkan masyarakat desa ke dalam seluruh proses kekaryaan. Berbagai upaya pendekatan baik secara pribadi maupun organisasi dilakukan untuk mengajak partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan penciptaan ini.
  2. Eksplorasi kearifan lokal
    Sumber daya lokal setiap desa akan menjadi inspirasi utama dalam penciptaan karya ini berawal dari seni batik, ketek ogleng, seni kriya (anyaman), terbang klasik, tari, musik, rebana. Pengkarya juga masih berusaha menggali potensi tradisi dan budaya agar menjadi lebih lengkap.
  3. Kolaborasi dengan seni lokal
    Pengkarya mengajak dan mendorong keterlibatan seniman desa dalam karya ini agar mereka memiliki peran aktif penciptaan karya seni. Pengalaman pengkarya berpadu kreativitas warga setempat dengan menghasilkan proses keseimbangan.
  4. Metode workshop dan pelatihan
    Sanggar Seni Tirta Kinasih yang didirikan pengkarya, setiap pertemuan mengadakan pelatihan seni, baik itu menyanyi, menari, menggambar, dan ketrampilan lain. Pengkarya juga sebagai pelatih senam di desa-desa. Dalam prosesnya juga memberikan pelatihan tentang pola lantai dan gerak senam yang baru.