Adaptasi Unsur Rupa Raksasa Wayang Kulit Purwa ke dalam Karakter Visual Raksasa Nusantara – Ujian Terbuka S3 Herliyana Rosalinda

Adaptasi Unsur Rupa Raksasa Wayang Kulit Purwa ke dalam Karakter Visual Raksasa Nusantara – Herliyana Rosalinda

Surakarta 13 Agustus 2025 – Program Doktor Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Ujian Terbuka Tugas Akhir Disertasi berjudul Adaptasi Unsur Rupa Raksasa Wayang Kulit Purwa ke dalam Karakter Visual Raksasa Nusantara oleh Herliyana Rosalinda. Karya disertasi ini diselesaikan di bawah bimbingan Prof. Dr. Sunarmi, M. Hum. sebagai promotor, Prof. Dr. Sarwanto, S. Kar., M. Hum. sebagai co-promotor 1, dan Dr. Budi Setiyono, M. Si. sebagai co-promotor 2. Ujian ini telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 13 Agustus 2025 di ruang Seminar Pascasarjana ISI Surakarta, dengan susunan dewan penguji terdiri dari Prof. Dr. Bambang Sunarto, S. Sen., M. Sn sebagai ketua penguji, Dr. Zulkarnain Mistortoify. M. Hum sebagai sekretaris penguji, serta Dr. Bambang Suwarno, S. Kar., M. Hum., Dr. Winny Gunarti Widya Wardani., M.Ds., Prof. Dr Suyoto, S. Kar., M. Hum., dan Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn. sebagai penguji.

Dalam disertasi ini Herliyana Rosalinda menganalisis raksasa pada wayang kulit purwa yang di adaptasi ke dalam karakter visual raksasa Nusantara. Objek raksasa ditinjau dari artefak pada relief candi, arca dwarapala, kala dan makara untuk melihat akulturasi unsur rupanya pada objek raksasa di wayang kulit purwa khususnya gaya Surakarta. Raksasa pada wayang kulit purwa dianalisis unsur rupa khasnya dan dikelompokkan sesuai golongan setiap tokoh-tokohnya untuk membentuk variasi unsur rupanya. Postur pada boneka wayang raksasa diukur proporsinya perbandingan kepala yakni 1 : 3.5. Mengartikan bahwa secara ukuran raksasa pada wayang kulit purwa itu lebih besar dibanding tokoh lainnya, namun dari postur dan proporsi tubuh, termasuk ke kategori postur pendek atau kedil, dengan distorsi terutama dibagian kepala.

Unsur rupa tersebut, menjadi dasar untuk proses mengadaptasi menjadi karakter visual raksasa Nusantara yang dapat dikembangkan di berbagai media kontemporer (seperti pada komik, buku ilustrasi, buku cerita bergambar, game , video animasi, dan lain-lain). Proses adaptasi ini didasari tiga konsep adaptasi sebagai proses menurut Hutcheon (2006), yakni proses interpretasi, proses transformasi, dan proses kreasi ulang. Adaptasi ini menghasilkan tiga karakter visual raksasa Nusantara, dengan penamaan karakter Kalandara (mewakili raksasa golongan ksatria bertubuh besar), karakter Durgantari (mewakili raksasa perempuan golongan Dewa bertubuh sedang), dan karakter Kelana (mewakili raksasa golongan rendah bertubuh kecil).

Pada ketiga hasil adaptasi ini dievaluasi berdasarkan membentuk karakter visual prinsip-prinsip adaptasi, menghasilkan analisis berupa hal-hal yang dapat dipertahanlan dan yang tidak dapat dipertahankan dalam mengadaptasi dari seni tradisi ke seni kontemporer. Prinsip baru yang dimunculkan dalam adaptasi ini, yaitu rethinking, reconptualizing, dan understanding. Rethingking yaitu raksasa dimaknai sebagai sebagai simbol angkara murka, Reconceptualizing yaitu raksasa sebagai bentuk distorsi manusia wujud ekstrem, dan Understanding yaitu raksasa sebagai identitas baru terhadap sosok raksasa Nusantara.

Hasil penelitian ini memberikan simpulan bahwa unsur rupa raksasa wayang kulit purwa merupakan alkulturasi dari artefak Hindu-budha, dan ditentukan dari rupa postur dan atributnya yang menyesuaikan sifat dan status sosialnya dalam cerita pewayangan. Proses adaptasi unsur rupa figur raksasa wayang kulit purwa ke dalam karakter visual raksasa Nusantara dilakukan berdasarkan tiga prinsip proses yakni interpretasi, transformasi, dan kerasi ulang. Hasil adaptasi unsur rupa figur raksasa wayang kulit purwa ke dalam karakter visual raksasa Nusantara yaitu prinsip-prinsip adaptasi karakter visual raksasa Nusantara.

Penelitian ini menemukan bahwa, Unsur rupa raksasa wayang kulit purwa, yakni terutama pada proporsi tubuh figur raksasa wayang kulit purwa yaitu distorsi dengan pengukuran 1 : 3,5. Prototype desain 3 karakter visual Raksasa Nusantara, dan  Prinsip adaptasi karakter visual Raksasa Nusantara. Dalam kaitannya dengan lingkup keilmuan desain komunikasi visual, temuan ini memberikan pemahaman bahwa dalam proses mengadaptasi dari seni tradisi ke dalam seni kontemporer, perlu mempertimpangkan dan mengkonsepkan unsur-unsur yang melatarbelakanginya, seperti merumuskan unsur rupa khas yang harus dimunculkan, serta prinsip-prinsip apa saja yang dibawa pada hasil adaptasinya.

Kata kunci: raksasa, wayang kulit purwa, adaptasi, karakter visual raksasa Nusantara.

Berikut ini dokumentasinya: