Adaptasi Dan Negosiasi Kolektif Pertunjukan Mop-Mop Berbasis Komunitas Di Aceh – Ujian Terbuka S3 Rasyidin

PPSISISKA – Surakarta, 13 Oktober 2025 – Program Doktor Pascasarjana Doktoral Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Sidang Terbuka Disertasi untuk program promosi doktoral berjudul Adaptasi Dan Negosiasi Kolektif Pertunjukan Mop-Mop Berbasis Komunitas Di Aceh, judul ini merupakan pendalaman dari judul awal pada sidang tertutup yaitu Revitalisasi Mop-Mop: Studi Interdisipliner Komunitas Seni Di Aceh. Judul ini hasil dari perbaikan dari sidang kelayakan pada tanggal 16 Juli 2025 dengan judul Revitalisasi dan Restorasi Kolektif Pertunjukan Mop-Mop Berbasis Komunitas Di Aceh oleh Rasyidin sebagai mahasiswa teruji. Karya pengkajian disertasi Minat pengkajian Teater ini diselesaikan di bawah bimbingan Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn. sebagai promotor dan Prof. Dr. Sarwanto, S.Kar., M.Hum sebagai Ko-Promotor. Ujian sidang terbuka dilaksanakan pada hari Senin tanggal 13 Oktober 2025 di laksanakan di Ruang Seminar Lt 1 Pascasarjana ISI Surakarta pada pukul 10.00 – 13.00 WIB, dengan susunan dewan penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Bambang Sunarto, S.Sen., M.Sn. sebagai Ketua Penguji, Dr. Drs. Budi Setiyono, M.Si.. selaku Seketaris Penguji, serta Prof. Dr. Soetarno, DEA., Dr. Sunardi, M.Sn., Dr. Koes Yuliadi, M.Hum, Dr. Ratri Candrasari, M.Pd, Dr. Eko Wahyu Prihantoro, S.Sn., M.Sn., selaku anggota tim penguji.

Dalam disertasi Adaptasi Dan Negosiasi Kolektif Pertunjukan Mop-Mop Berbasis Komunitas Di Aceh ini, Rasyidin menganalisis adanya objek basis-basis komunitas seni pertunjukan dan pemerintahan yang dapat di ajak negosiasi untuk mempercepat pengembangan seni pertunjukan Mop-Mop dalam upaya persiapan untuk merevitalisasikan kembali Mop-Mop dengan pendekatan berbasis komunitas, dan steacholder terkait. Seni pertunjukan Mop-Mop dari Kabupaten Aceh Utara tepatnya di Kecamatan Muara Batu, atau masyarakat Aceh Utara sering menyebutkan dengan Krueng Mane-Sawang.

Materi Adaptasi Dan Negosiasi Kolektif Pertunjukan Mop-Mop Berbasis Komunitas Di Aceh kemudian sebagai pengunci dari isian draft disertasi yang telah menjadi objek pilihan peneiliti untuk kajian dan analisis untuk menemukan fenomena seni pertunjukan Mop-Mop Aceh Aceh Utara yang memiliki keunikan tersendiri baik dari nilai humor, kesusastraan dalam dialog, musikalitas ke Aceh, dimana di dalam pertunjukan nya terdapat perpaduan berbagai disiplin kelilmuan, seperti seni sastra lisan, musik, tari, dan rupa yang dikembangkan oleh tiga kekuatan penokoh yang Ayah Tuan, Dara Baro,dan Linto Baro yang mewakili tatacara kehidupan dalam kebudayaan masyarakat Aceh.

Seni pertunjukan Mop-Mop telah membawa dan menggambarkan bagaimana adat perkawinan dalam masyarakat Aceh menjadi indetitas semiotika yang di hadirkan masyarakat Aceh untuk Nusantara. Daya tarik dari pertunjukan Mop-Mop ialah pada bentuk pertunjukan nya yang  bersifat jenaka, dan pertunjukan Mop-Mop ini telah memperlihatkan wajah khas masyarakat Aceh yang cinta akan perdamaian yaitu ceria.  Banyak masyarakat Nusantara tidak mengetahui dari sisi karakter masyarakat Aceh yang satu ini. Selain hanya mengenal kekentalan aturan dengan budaya Syariat nya.

Prospek ini terlihat mendalam, setelah peneliti melakukan penelitian selama 20 tahun, peneliti menemukan asset dan unsur yang tersimpan di dalam seni pertunjukan Mop-Mop yang nyaris punah. Dengan itikat yang kuat serta serius peneliti mencoba menghimpun beberapa seniman yang tersisa dengan komando dari Nyakman sang Manajer Merak Jempa Institut, dan peneliti telah menukan konsep baru dalam upaya meremajakan kembali eksistensi gerakan kesenian seni pertunjukan Mop-Mop, kajian itu peneliti himpun dalam konsep ruang Adaptasi dan Negosiasi  Kolektif Pertunjukan Mop-Mop Berbasis Komunitas Di Aceh, hal ini perlu peneliti lakukan secara marathon agar upaya untuk merumuskan konsep baru demi terselenggara terwujudnya regenerasi baru para pemuda dan masyarakat Aceh, agar nantinya kesenian Mop-Mop nanti kembali mendapat tempat di Aceh, dan masyarakat Aceh kembali mengenali kesenian seni pertunjukan Mop-Mop dengan nilai yang lebih familiar dengan masyarakat Aceh Utara dan Pidie tersebut.  

Hasil penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa seni pertunjukan Mop-Mop yang tadinya tertinggal, terlupakan, dengan telah membaca ulang semua aturan dan sejarah perkembangan pertunjukan Mop-Mop, maka hal-hal yang dirasa asumtif menghambat perkembangan seni pertunjukan Mop-Mop di mungkinkan untuk di lakukan pengembangan Seni pertunjukan Mop-Mop kembali.  Dan program berikutnya untuk upaya di kembangkan dan lestarikan, tentu dengan strategi peremajaan konsep dengan merumuskan semua metode pertunjukan serta aturan-aturan utama dalam pertunjukan, juga mengkomunikasikan secara lebih visioner kepada berbagai elemen masyarakat agar program kerja pelestarian Mop-Mop  dapat memudahkan peneliti untuk merumuskan format baru untuk pengembangan seni pertunjukan serta melahirkan format event baru yang dapat memberi ruang baru kepada seniman Mop-Mop untuk dapat di nikmati oleh masyarakat Aceh bahkan masyarakat dunia.