Epistemisida Minangbabau: Alam Takambang Jadi Batu #3 (Masa Depan Ibu) – Ujian Proposal S3 Mahatma Muhammad
Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Sidang Ujian Proposal Disertasi Program Doktor Seni pada Selasa, 21 April 2026, bertempat di Ruang Sidang Pascasarjana. Sidang ini diikuti oleh Mahatma Muhammad (NIM 223121020), mahasiswa Program Studi Seni Program Doktor, dengan judul disertasi Epistemisida Minangbabau: Alam Takambang Jadi Batu #3 (Masa Depan Ibu).
Sidang dipimpin oleh Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., M.Sn. selaku Ketua dan Dr. Fawarti Gendra Nata Utami, S.Sn., M.Sn. sebagai Sekretaris. Bertindak sebagai Promotor adalah Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A., dengan Ko-Promotor Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si. Adapun tim penguji terdiri dari Prof. Dr. Asril, S.Kar., M.Hum., Dr. Wahyu Novianto, S.Sn., M.Sn., serta Dr. Hoirul Hafifi, M.Sn.
Disertasi ini berangkat dari pengalaman hidup dalam krisis ekologis yang tidak lagi berada di luar subjek. Banjir, galodo, dan kerusakan bentang alam bukan peristiwa yang diamati dari jauh, melainkan dialami dari dalam, oleh tubuh yang tinggal dan berproses di Korong Kasai, Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman, Sumatra Barat. Kondisi ini dibaca sebagai proses epistemisida: terdesaknya sistem pengetahuan lokal Minangkabau yang selama ini bekerja melalui praktik tubuh, adat, dan pengalaman kolektif, sebuah proses yang jauh lebih panjang dari bencana yang paling baru.
Bertolak dari situasi tersebut, disertasi ini memposisikan pertunjukan seni bukan sebagai representasi atas krisis, melainkan sebagai ruang di mana krisis itu dioperasikan dari dalam. Melalui metode rekombinasi, berbagai praktik tubuh Minangkabau, yaitu randai, silek, ulu ambek, indang, dan tupai janjang, diaktifkan kembali bukan sebagai penampilan tradisi, tetapi sebagai cara kerja yang mengatur bagaimana tubuh memahami, merespons, dan berelasi dengan lingkungan yang terus berubah.
Karya Alam Takambang Jadi Batu #3: Masa Depan Ibu dibangun tanpa pusat tunggal, di mana tubuh, bunyi, ruang, material, dan teks bekerja bersama, saling mendukung dan saling mengganggu. Struktur yang fragmentaris bukan semata pilihan estetis, melainkan cara jujur untuk merespons dunia yang kehilangan kesinambungannya. Figur “ibu” hadir bukan sekadar tokoh atau simbol, tetapi sebagai cara membaca siapa yang paling langsung menanggung beban perubahan ekologis dalam sistem kosmologi matrilineal Minangkabau.
Sejalan dengan pendekatan practice-based research, disertasi ini berpendirian bahwa penciptaan karya bukan turunan dari teori, melainkan cara memproduksi pengetahuan itu sendiri. Pertunjukan menjadi ruang di mana pengetahuan lokal tidak hanya direpresentasikan, tetapi dihidupi ulang dalam kondisi yang telah berubah, sebagai cara berpikir dan cara bertahan dalam krisis yang terus berlangsung. []
