Singgêtan: Konsep dan Praktik dalam Garap Kendang Gaya Surakarta – Ujian Tugas Akhir S2 Galuh Argo Putro

Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melaksanakan ujian tugas akhir tesis Program Magister (S2) Pengkajian Seni Musik atas nama Galuh Argo Putro (NIM 232111039) pada Senin (4/3). Ujian dilaksanakan di Ruang Ujian Pascasarjana Lantai 2 dengan judul tesis “Singgêtan: Konsep dan Praktik dalam Garap Kendang Gaya Surakarta”.

Ujian tesis tersebut dilaksanakan dengan tim penguji yang terdiri atas Dr. Drs. Budi Setiyono, M.Si., selaku Ketua Penguji, Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn., sebagai Penguji utama, serta Prof. Dr. Suyoto, S.Kar., M.Hum., sebagai Pembimbing.

Ujian tesis dilaksanakan untuk menguji penelitian tentang singgêtan sebagai salah satu bagian penting dalam karawitan Jawa gaya Surakarta. Fokus utama meliputi analisis singgêtan dalam sajian gending gaya Surakarta. Singgêtan memiliki beragam jenis dan setiap jenis singgêtan memiliki tempat serta fungsi yang berbeda.

Permasalahan yang muncul adalah bagaimana gagasan singgêtan dalam karawitan gaya Surakarta. Kemudian bagaimana elemen pembentuk singgêtan dalam sajian gending. Terakhir, bagaimana ukuran ideal pembawaan singgêtan dalam menyajikan gending. Dalam penelitian ini Galuh menggunakan teori garap Rahayu Supanggah, konsep rasa Marc Benamou, dan konsep mungguh Sunardi.

Teori garap Supanggah digunakan untuk menganalisis singgêtan dalam sajian gending gaya Surakarta. Konsep rasa Benamou digunakan untuk menjelaskan dimensi intuitif, afektif, dan relasional dalam praktik musikal yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui analisis struktur. Kemudian konsep mungguh menjadi acuan mempertimbangkan kemungguh dalam mengaplikasikan singgêtan. Metode pengumpulan data melalui tiga tahap, yaitu studi pustaka, observasi, dan wawancara.

Hasil penelitian ini ditemukan pengaplikasian singgêtan pada gending reguler telah memiliki pola penempatan yang terumuskan secara konvensional dan relatif ajeg. Keberadaannya mengikuti struktur gending dan penempatan singgêtan cenderung bersifat prediktif. Kemudian pengaplikasian singgêtan pada gending irreguler tidak hanya mengacu pada struktur gending, tetapi juga mempertimbangkan intuisi dan afek dalam konsep rasa. Keidealan pengaplikasian singgêtan pada gending irreguler terbentuk melalui peran intuisi dan afek pengendhang.

 Singgêtan memiliki tiga elemen pembentuk, yaitu struktur gending, frasa padhang ulihan kalimat lagu balungan, dan frasa padhang ulihan kalimat lagu vokal. Keberadaan singgêtan memperkokoh identitas musikal suatu gending dalam praktik karawitan gaya Surakarta.

Galuh melalui penelitian ini berharap dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan keilmuan karawitan serta kajian musik secara lebih luas. Harapannya, seluruh proses yang telah dilalui dapat menjadi pijakan untuk terus berkarya, mengembangkan pemikiran, serta memberikan sumbangsih bagi perkembangan seni dan budaya di masa mendatang.