SISTEM TANDA DALAM PEMENTASAN WAYANG ORANG SRIWEDARI: INTEGRITAS SEMIOTIKA PIERCE DAN SIGNALING THEORY MICHAEL SPANCE – Ujian Kelayakan ANGGER TANDANG YUDO PRABOWO
Ujian kelayakan tesis tanggal 27 Februari 2026 atas nama Angger Tandang Yudo Prabowo NIM : 232111024
Minat : Pengkajian Musik
Para Penguji :
1. Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn. (Ketua Dewan Penguji)
2. Prof. Dr. Sugeng Nugroho, S.Kar., M.Sn. (Pembimbing/ Penguji II)
3. Prof. Dr. Bambang Sunarto, S.Sen., M.Sn (Penguji I)
ABSTRAK
Di tengah tekanan era globalisasi dan pergeseran selera budaya, pemahaman sistematis terhadap mekanisme makna dalam seni pertunjukan tradisional menjadi krusial untuk memastikan keberlanjutan yang berbasis pemaknaan, bukan sekadar replikasi bentuk. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem tanda dalam pementasan Wayang Orang Sriwedari sebagai arsitektur makna yang terpadu. Menggunakan pendekatan etnografi kualitatif, penelitian dilakukan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan sutradara, dalang, pemain wayang, pengrawit, pesindhèn, serta tim artistik di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Surakarta. Kerangka analisis mengintegrasikan semiotika Charles Sanders Peirce (ikon, indeks, simbol) dan signaling theory Michael Spence. Temuan menunjukkan bahwa Wayang Orang Sriwedari beroperasi melalui sembilan kategori tanda hasil integrasi antara tiga jenis tanda (visual, auditori, gerak) dan empat ragam representasi (ikon, indeks, simbol, sinyal). Tanda visual ikonik (layar, properti), tanda visual simbolik (tata rias, busana), dan tanda indeks visual (tata lampu) membentuk fondasi naratif yang dapat dipersepsi langsung oleh penonton. Di ranah auditori, tembang macapat berfungsi sebagai tanda indeks; gending, catur, dan sulukan sebagai tanda simbolik; sedangkan dhodogan-keprakan berperan sebagai tanda sinyal—mekanisme koordinasi internal yang menyelaraskan respons kolektif pelaku pertunjukan secara real time. Ekspresi tari dan gerak karakter tari berfungsi sebagai tanda indeks dan simbolik yang mengungkap watak, suasana, dan status sosial, sementara instruksi teknis sutradara beroperasi sebagai tanda sinyal gerak yang mengatur ritme dan ekspresi sebelum pementasan dimulai. Sistem tanda ini bersifat dinamis: ia tetap berpijak pada pakem tradisional, namun responsif terhadap improvisasi, partisipasi penonton, dan konteks pertunjukan kontemporer. Temuan ini menegaskan bahwa Wayang Orang Sriwedari bukan sekadar pertunjukan estetis, melainkan sistem komunikasi hidup yang menyatukan dimensi representasional (makna bagi para penonton) dan operasional (koordinasi antar-pelaku). Penelitian ini ikut memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan semiotika pertunjukan non-Barat, sekaligus menyediakan kerangka analitis untuk pelestarian seni tradisional yang berakar pada pemahaman sistemik atas logika dramatik dan estetika lokal.
