Tubuh Pohon – Ujian Proposal S2 Fachry Destyanto Matlawa
Surakarta, 5 Februari 2026 — Mahasiswa Program Magister Penciptaan Seni Pascasarjana ISI Surakarta, Fachry Destyanto Matlawa (242111041), telah melaksanakan ujian proposal tesis penciptaan karya seni berjudul “Tubuh Pohon” di ruang ujian Pascasarjana ISI Surakarta.
“Tubuh Pohon” merupakan penelitian artistik berbasis seni pertunjukan yang berangkat dari krisis ekologis di Papua. Karya ini dilandasi kegelisahan terhadap ekspansi industri kelapa sawit yang mendorong konversi lahan dan menggeser keberadaan hutan sagu. Degradasi sagu tidak hanya berdampak pada pangan, tetapi juga pada hilangnya pengetahuan ekologis, memori kolektif, dan sistem relasi hidup masyarakat adat. Dalam konteks ini, karya menempatkan industri sawit bukan sekadar latar isu, melainkan faktor utama yang memicu lahirnya gagasan artistik.
Landasan etis karya berpijak pada konsep Lambunik dan Asamanam dalam kosmologi Asmat. Lambunik menegaskan keterhubungan tubuh manusia dengan pohon, tanah, dan leluhur, sementara Asamanam memandang kehidupan sebagai jaringan relasi yang harus dijaga keseimbangannya. Ketika hutan sagu tergantikan oleh lanskap monokultur, relasi tersebut ikut terganggu; Tubuh manusia kehilangan orientasi ekologis sekaligus spiritualnya.
Secara bentuk, “Tubuh Pohon” dirancang sebagai Durational performance yang menempatkan tubuh sebagai medium pengetahuan. Penampil berinteraksi langsung dengan material minyak goreng produk turunan industri sawit sehingga tubuh mengalami licin, kehilangan pijakan, jatuh, dan kelelahan. Pengalaman fisik ini digunakan untuk menghadirkan bagaimana dampak industri ekstraktif bekerja langsung pada tubuh, bukan hanya sebagai wacana lingkungan.
Struktur dramaturgi karya menggunakan kerangka dekolonial Poka Laenui yang terdiri dari lima fase:
Rediscovery (penemuan kembali relasi tubuh dengan tanah),
Mourning (pengalaman duka atas hilangnya lanskap sagu),
Dreaming (membayangkan kemungkinan relasi baru manusia–alam),
Commitment (pengambilan sikap tubuh terhadap krisis), dan
Action (kehadiran tubuh sebagai pernyataan keberlanjutan).
Melalui dramaturgi ini, pertunjukan berkembang sebagai perjalanan pengalaman tubuh,bukan alur dramatik konvensional.
Dalam forum ujian, tim penguji juga memberikan catatan konseptual terhadap penggunaan judul “Tubuh Pohon”. Istilah “pohon” dinilai masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut karena konteks karya berkaitan dengan dua jenis vegetasi yang sama sagu dan sawit namun memiliki makna ekologis dan politis yang tidak sama. Oleh karena itu, judul karya masih terbuka untuk pengembangan agar lebih presisi dalam merepresentasikan fokus kritik terhadap industri sawit dan dampaknya terhadap ekosistem sagu.
Ujian proposal berlangsung dengan diskusi akademik bersama tim penguji dan pembimbing serta menghasilkan sejumlah masukan konseptual dan artistik menuju tahap produksi. Karya ini diharapkan berkembang sebagai kontribusi pada wacana seni pertunjukan kontemporer Indonesia, khususnya praktik seni ekologi, pendekatan dekolonial, dan penciptaan berbasis konteks lokal Papua.
Tahap selanjutnya adalah riset artistik lanjutan, eksplorasi tubuh dan material, serta perwujudan karya menuju pementasan akhir tesis.
Ketua Penguji : Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn,. M.Sn
Pembimbing : Dr. Dr Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A
Penguji : Dr. Drs. Budi Setiyono, M. Si

