Gendrang dan Pagendrang: Hegemoni dalam Konteks Budaya Musik Di Watampone Sulawesi Selatan –

“Gendrang dan Pagendrang: Hegemoni dalam Konteks Budaya Musik Di Watampone Sulawesi Selatan” merupakan judul proposal yang telah dipertanggungjawabkan dalam ujian proposal oleh Muh. Aidil Fitriawan Alwi yang dilaksanakan di Institut Seni Indonesia Surakarta. Ujian ini dilaksanakan pada tanggal 8 Januari 2026, pukul 09.00-11.00 di Ruang Sidang Pascasarjana ISI Surakrta. Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn. selaku ketua penguji, Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum. sebagai penguji utama dan Dr. Aton Rustandi Mulyana, M.Sn. selaku Pembimbing.

Penelitian ini berusaha mengungkap bagaimana Hegemoni gandrang Makassar terhadap gendrang Bone yang terjadi, bagaimana proses dan bentuk hingga dampak dari Hegemoni gandrang Makassar di Watampone. Gendrang Bone merupakan ensambel musik tradisional dari Watampone yang kini termarginalkan oleh pemusik Watampone itu senidir. Hal ini diduga akibat masuknya kesenian lain, yaitu gandrang Makassar yang diterima dengan baik oleh pemusik di Watampone. Tidak hanya sekedar perubahan tren musik, hal ini dilihat sebagai bentuk Hegemoni dalam budaya musik di Watampone. Hal ini karena melihat pemusik Watampone memandang gandrang Makassar sebagai musik yang lebih “baik”, lebih modern, lebih unggul dalam segi estetika, memiliki peluang job yang lebih tinggi, lebih relevan dengan kebutuhan pemusik Watampone saat ini. Singkatnya, gandrang Makassar dilihat sebagai musik yang lebih superior sehingga membuat preferensi musik, standar estetika, standar profesionalisme dari pemusik Watampone berubah yang akirnya berdampak pada alienasi gendrang Bone. Hal ini bukan merupakan manipulasi dari suatu kelompok dominan pada kelompok subordinat, tapi terbentu dari kesadaran dan persetujuan oleh kelompok subordinat untuk menggunakan ideologi dan nilai-nilai dari kelompok dominan yang dianggap masuk akal dan bahkan menguntungkan mereka.

Dengan meminjam pemikiran Stuart Hall dalam melihat budaya sebagai site of struggle dan disandingkan dengan pandangan Antonio Gramsci dalam melihat Hegemoni bukanlah sebuah dominasi yang dilakukan secara paksa, melainkan melalui persetujuan atau konsensus dalam menerima nilai dan ideologi suatu kelompok yang dianggap sebagai common sense. Pemikiran Hall menyediakan kerangka makro untuk penelitian ini, melihat budaya bukan sebagai objek tapi medan politik. Kemudian pandangan Gramsci digunakan untuk membaca fenomena Hegemoni yang terjadi dalam budaya.

Untuk menengumpulkan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini digunakan metode penelitian Etnografi Baru milik James Spradley yang menekankan pandangan emik, yaitu melihat objek, subjek, atau fenomena berdasarkan sudut pandang pelaku. Hal ini sangat sesuai dengan kebutuhan penelitian ini yang berusaha melihat bentuk, mekanisme dan dampak dari Hegemoni gandrang Makassar terhadap gendrang Bone. Hegemoni terjadi melalui konsesnsus, atau persetujuan secara sadar oleh masyarakat, hal ini berkaitan dengan hal-ihwal seperti cara mereka memandang, menilai dan memperlakukan, dalam penelitian ini, gendrang Bone dan gandrang Makassar yang kemudian membentuk dominasi gandrang Makassar dan marginalisasi gendrang Bone.

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu untuk memantik kesadaran pemusik lokal di Watampone akan kesenian lokal mereka, melestarikan dan bahkan mengembangkan kesenian lokal mereka, menyandingkannya dengan kesenian populer yang ada dibWatampone.