Pascasarjana ISI Surakarta “Grebek” Kantor Wamenbud: Dari Bahas Ekosistem Seni Hingga Giring Ganesha Belajar Tari Jawa!

Pascasarjana ISI Surakarta “Grebek” Kantor Wamenbud: Dari Bahas Ekosistem Seni Hingga Giring Ganesha Belajar Tari Jawa!

JAKARTA, 20 Januari 2026 – Apa jadinya kalau para maestro seni dari ISI Surakarta bertemu dengan jajaran pimpinan Kementerian Kebudayaan? Bukan sekadar rapat formal biasa, pertemuan yang berlangsung di Gedung E Kompleks Kementerian Kebudayaan RI hari ini terasa sangat hangat dan penuh aksi budaya.

Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala,S.Sos. M.Sn., bersama Direktur Pascasarjana, Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn. M.F.A. (yang akrab disapa Eko Pece), melakukan kunjungan strategis untuk memperkuat ekosistem kebudayaan nasional melalui jalur pendidikan tinggi.

Misi Besar untuk Seni Indonesia
Pertemuan diawali dengan audiensi bersama Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Bapak Ahmad Mahendra. Di sini, tim ISI Surakarta memaparkan rencana besar pembangunan Art Center ISI Surakarta serta gelaran Festival Pasca #3. Fokusnya jelas: membawa seni tradisi kita naik kelas ke level internasional tanpa kehilangan akar budayanya.

Momen Ikonik: Mas Wamen Nyoba Gerak Tari!
Keseruan berlanjut saat rombongan bergeser ke ruang kerja Mas Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha Djumaryo. Disambut dengan gaya yang nyentrik dan humble banget, suasana jadi cair seketika.

Dalam pertemuan tersebut, Direktur Pascasarjana memaparkan persiapan IST Festival dan rangkaian perayaan Dies Natalis ISI Surakarta. Namun, ada satu momen yang mencuri perhatian: Bapak Wamen langsung minta diajari gerakan tari Jawa!

Tanpa ragu, Mas Wamen Giring mencoba mengikuti gerakan demi gerakan yang dicontohkan langsung oleh sang maestro, Eko Pece. Momen ini membuktikan bahwa budaya bukan cuma buat ditonton, tapi buat dirasakan dan dipraktikkan langsung, bahkan oleh pimpinan negara sekalipun.

Mengapa Ini Penting buat Gen Z?
Kerja sama ini bukan cuma soal dokumen di atas kertas. Ini adalah langkah nyata agar anak muda punya ruang lebih luas untuk berkarya, mengakses fasilitas seni yang mumpuni, dan memastikan identitas budaya kita tetap “menyala” di kancah global.

“Kami ingin memastikan bahwa ekosistem kebudayaan kita kuat dari hulu ke hilir. Jalur pendidikan tinggi seni adalah kuncinya,” ujar Dr. Bondet Wrahatnala.

Dengan semangat kolaborasi ini, diharapkan kampus seni seperti ISI Surakarta bisa terus jadi trendsetter dalam pelestarian budaya yang relevan dengan perkembangan zaman.