MAKNA SIMBOLIK PERTUNJUKAN THAK-THAKAN DI TAMBAKBOYO TUBAN PERSPEKTIF SEMIOTIKA ROLAND BARTHES – Ujian Tugas Akhir S2 Arum Trianingsih Himawan
MAKNA SIMBOLIK PERTUNJUKAN THAK-THAKAN DI TAMBAKBOYO TUBAN PERSPEKTIF SEMIOTIKA ROLAND BARTHES
Ujian Tugas Akhir S2 Arum Trianingsih Himawan NIM 232111010
Hari : Jumat
Tanggal : 9 Januari 2026
Waktu : 09.00-11.00 WIB
Tempat : Ruang Sidang Atas Pascasarjana
Judul : Makna Simbolik Pertunjukan Thak-Thakan di Tambakboyo
Tuban Perspektif Semiotika Roland Barthes
Minat : Pengkajian Tari
Para Penguji :
1. Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn. (Ketua Dewan Penguji)
2. Prof. Dr. Sri Rochana W., S. Kar., M.Hum (Pembimbing/ Penguji II)
3. Dr. Slamet, M. Hum (Penguji I)
Penelitian ini mengkaji signifikansi pertunjukan Thak-Thakan sebagai kesenian ritual dan festival kesenian yang merepresentasikan identitas budaya masyarakat Tambakboyo, Tuban. Thak-Thakan tidak sekadar berfungsi hiburan, melainkan menjadi media simbolik yang menjembatani dimensi spiritual dan sosial dalam kehidupan masyarakat pesisir. Fokus kajian diarahkan pada struktur pertunjukan dalam dua konteks utama, yakni Thak-Thakan dalam ritual malam satu Suro dan festival Thak-Thakan, dengan menelaah peran, simbol, serta makna yang melekat pada setiap elemennya. Perbedaan konteks tersebut memungkinkan pembacaan yang komprehensif terhadap dinamika makna, fungsi, dan nilai budaya dalam pertunjukannya.
Data penelitian dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam secara etik dan emik, serta dokumentasi visual dari pertunjukan. Analisis menggunakan semiotika Roland Barthes untuk mengungkap tanda, simbol, dan kode dalam gerak, musik, kostum, dan alur dramatik, serta pendekatan etnografi guna memahami konteks sosial budaya yang melingkupinya. Kebaruan penelitian ini terletak pada pembacaan Thak-Thakan sebagai teks budaya yang hidup dan adaptif melalui perbandingan dua konteks pertunjukan, memperlihatkan proses negosiasi, transformasi, dan keberlanjutan makna simbolik dalam kehidupan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Thak-Thakan dipahami sebagai teks budaya yang hidup, adaptif, sarat nilai spiritual dan sosial, serta memainkan peran penting dalam memperkuat kohesi komunitas. Selain itu, penelitian ini menyoroti bagaimana masyarakat memaknai pertunjukan sebagai ruang negosiasi identitas, media regenerasi nilai budaya, serta mekanisme sosial yang menjaga kelangsungan tradisi. Temuan ini memberikan kontribusi bagi pemahaman tentang hubungan antara kesenian tradisi, dinamika masyarakat pesisir, dan konstruksi makna simbolik yang terus berkembang.

