Grimingan: Interaksi Musikal Penggendèr dan Dalang dalam Sajian Pakeliran Ki Purbo Asmoro – Ujian Proposal Tesis Bramantyo Arif Febrianto
Program Pascasarjana khususnya Program Studi Seni Program Magister Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Ujian Proposal Tesis mahasiswa yaitu Bramantyo Arif Febrianto dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 242111002. Ujian proposal mahasiswa yang mengambil minat Pengkajian Seni Musik khususnya karawitan tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, 7 Januari 2026 pada pukul 13.00-15.00 WIB yang bertempat di Ruang Sidang Atas Pascasarjana ISI Surakarta. Adapun susunan dewan penguji terdiri atas Dr.Dr. Eko Supriyanto, S.Sn. M.F.A. selaku Ketua Penguji, Prof. Dr. I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum. selaku Penguji Utama, dan Prof. Dr. Sugeng Nugroho, S.Kar., M.Sn. selaku Pembimbing. Grimingan: Interaksi Musikal Penggendèr dan Dalang dalam Sajian Pakeliran Ki Purbo Asmoro merupakan judul penelitian yang diajukan oleh Bramantyo Arif Febrianto. Penelitian tersebut memfokuskan pada kajian tentang grimingan sebagai wujud interaksi musikal antara penggendèr dan dalang dalam sajian pakeliran Ki Purbo Asmoro dengan subjek penggendèr yang dipilih yaitu Bambang Siswanto.
Pada bagian latar belakang, peneliti mengungkapkan fenomena dengan diawali tentang peran penabuh instrumen gendèr (penggendèr) yang sangat kompleks dalam sajian pergelaran wayang kulit. Alasannya, selain harus menghasilkan susunan nada dan melodi dalam gending, seorang penggendèr juga wajib memberikan patokan nada-nada yang presisi serta mampu melayani dan mengikuti (ngemong) kebutuhan musikal seorang dalang. Lebih dari itu, seorang penggendèr tidak diperbolehkan menghentikan permainannya sedikit pun meskipun penabuh instrumen lainnya sedang berhenti menabuh. Aktivitas menabuh yang terus-menerus tersebut dilakukan dengan memainkan susunan nada-nada tertentu yang disebut dengan grimingan. Grimingan merupakan suatu komposisi melodi instrumen gendèr yang berperan sebagai musik latar belakang ketika dalang sedang menyajikan narasi dan dialog, agar suasana dapat terbangun serta memberikan bingkai atau batasan wilayah nada (laras dan pathet) tertentu dalam pergelaran wayang kulit. Selain itu grimingan berperan untuk mempertegas konflik dan memperkuat karakter tokoh yang sedang ditampilkan.
Observasi awal terhadap sajian pakeliran menghasilkan hipotesis bahwa grimingan berfungsi sebagai sarana interaksi musikal utama antara penggendèr dan dalang. Akan tetapi, signifikansi tersebut sayangnya tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber tertulis atau dokumentasi audio dan video yang memadai. Topik tersebut bahkan belum terintegrasi secara definitif ke dalam kurikulum pembelajaran di lembaga seni formal. Kajian yang secara eksplisit mengungkap mekanisme grimingan sebagai wujud interaksi musikal antara penggendèr dan dalang sejauh ini belum ditemukan, terutama dalam kaitannya dengan pemberian tuntunan laras dan penguatan karakter tokoh wayang. Kesenjangan akademik tersebut, ditambah dengan vitalnya fungsi grimingan, menjadikan topik tersebut dinilai sangat penting untuk diteliti.
Penelitian tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tahap penelitian meliputi pengumpulan data, analisis data, dan penyajian data. Hasil dari penelitian ini harapannya dapat memberikan dedikasi konkret terhadap masyarakat karawitan dan pedalangan mengenai grimingan sebagai wujud interaksi antara penggendèr dan dalang dalam sajian pakeliran Ki Purbo Asmoro. Melalui penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi sumber referensi dan kajian pustaka, khususnya dalam upaya mengkaji grimingan secara luas dan mendalam. Selain itu, penelitian tersebut ditargetkan untuk menambah wawasan serta ilmu pengetahuan bagi peneliti dan pembaca mengenai keterkaitan fungsional antara karawitan dan pedalangan. Hasil penelitian tersebut juga diharapkan mampu menumbuhkan sikap kepedulian peneliti serta masyarakat luas terhadap kekayaan kebudayaan dan pelestarian seni tradisi.
