Estetikanisasi Saung pada Restoran Sunda di Bandung : Strategi Pelestarian Budaya Sunda pada Arus Modernitas – Ujian Kelayakan S3 Edwin Widia
Jumat, 12 Desember 2025
Jam 13.00- 16.00
bertempat di ruang sidang Pascasarjana ISI Surakarta
Ujian Kelayakan Disertasi atas nama
Edwin Widia – 213121001
Judul “ Estetikanisasi Saung pada restoran sunda di Bandung : Strategi pelestarian budaya Sunda pada arus modernitas”
Ketua Sidang : Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum.
Seketaris Sidang : Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn.
Promotor : Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum.
Ko Promotor : Dr. Siti Badriyah, M.Hum.
Penguji : Prof. Dr. Rahmanu Widayat, M.Sn.
Penguji : Dr. Drs. Budi Setiyono, M.Si.
Penguji : Dr. Agung Purnomo, S.Sn., M.Sn.
Disertasi ini mengkaji transformasi Saung, yang secara historis merupakan shelter petani di lingkungan agraris, menjadi elemen ruang dan simbol estetika dalam interior restoran Sunda di kawasan urban Bandung Raya. Transformasi ini tidak hanya berlangsung pada tataran visual dan fungsi ruang, tetapi juga pada makna budaya dan pengalaman ruang yang menyertainya.
Kajian berangkat dari pertanyaan mendasar, mengapa Saung selalu dihadirkan dalam restoran Sunda, padahal secara ekologis dan historis Saung berada di kawasan persawahan. Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika penyusutan lahan sawah di Bandung Raya berbanding terbalik dengan proliferasi Saung yang justru semakin berkembang secara kreatif dan beragam dalam konteks restoran. Melalui pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivistik.
Penelitian ini memanfaatkan data emik yang diperoleh dari wawancara dengan petani, pemilik restoran, desainer, dan konsumen, yang diperkuat dengan observasi langsung pada sejumlah restoran Sunda di Bandung Raya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontestasi estetikanisasi saung antar restoran Sunda secara tidak langsung berperan dalam menjaga dan mereproduksi nilai budaya Sunda melalui pengalaman interioritas, yang mencakup dimensi sensorik, afektif, dan sosial. Pengalaman tersebut termanifestasi dalam berbagai istilah emik Sunda yang muncul ketika individu berinteraksi di dalam Saung, seperti waas, nineung, nyawang, niis, ngiuhan, balakacrakan, dan istilah lainnya. Istilah-istilah emik tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi bahasa, tetapi direproduksi dalam praktik desain interior sebagai konsep Estetika Rarasaan Sunda, yaitu konstruksi rasa yang membentuk pengalaman budaya Sunda secara kolektif. Melalui mekanisme ini, Saung berfungsi sebagai ruang produksi pengalaman Sunda yang saling beresonansi, baik antar individu maupun antar ruang. Observasi lapangan memperlihatkan bahwa keragaman bentuk dan makna Saung dalam konteks restoran tidak melemahkan nilai tradisi, melainkan justru memperkuatnya melalui adaptasi terhadap fitur-fitur restoran masa kini. Estetikanisasi Saung berlangsung sebagai proses kreatif yang terus direproduksi untuk menghadirkan pengalaman budaya Sunda secara kontekstual dan relevan bagi konsumen, termasuk bagi mereka yang sebelumnya belum mengenal budaya Sunda. Dengan demikian, Saung diposisikan sebagai objek budaya Sunda yang hidup, yang menjaga keberlanjutan rarasaan Sunda melalui praktik ruang dan desain interior. Disertasi ini menunjukkan bahwa estetikanisasi Saung dapat berfungsi sebagai strategi pelestarian budaya Sunda dalam arus modernitas.
Berbagai kritik, koreksi, dan masukan dari para penguji, khususnya terkait metodologi, kerangka konseptual, dan pendalaman literatur, menjadi catatan penting yang akan ditindaklanjuti oleh peneliti. Masukan tersebut dipandang sebagai bagian dari proses akademik yang konstruktif guna meningkatkan kualitas, ketajaman analisis, dan pertanggungjawaban ilmiah dalam tahapan penyempurnaan disertasi menuju sidang tertutup.
