Pengembangan Perfilman Desa melalui Praktik Ruang Publik Deliberatif – Ujian Proposal S3 Titus Soepono Adji
Usulan Disertasi Mahasiswa Pasca Sarjana ISI Surakarta Bahas Pengembangan Perfilman Desa Berbasis Ruang Publik Deliberatif
Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Sidang Ujian Proposal Disertasi Program Doktor Seni pada Senin, 17 November 2025, pukul 13.00–15.00 WIB, bertempat di Ruang Rapat Pascasarjana ISI Surakarta. Sidang ini diikuti oleh Titus Soepono Adji (NIM 223121011), mahasiswa Program Studi Seni Program Doktor, dengan judul disertasi “Pengembangan Perfilman Desa melalui Praktik Ruang Publik Deliberatif.”
Disertasi ini berangkat dari kritik atas ketimpangan struktural dalam ekosistem perfilman Indonesia, di mana desa kerap hadir sebagai latar visual dan sumber narasi, namun belum memperoleh posisi setara sebagai subjek dalam praktik perfilman. Proses kreatif, pengambilan keputusan, legitimasi estetika, serta distribusi manfaat ekonomi masih terpusat di wilayah perkotaan. Penelitian ini memosisikan perfilman bukan semata sebagai produk estetika, melainkan sebagai praktik budaya yang berkelindan dengan relasi kuasa, infrastruktur material, dan ruang sosial masyarakat desa
Sidang proposal ini dipromotori oleh Prof. Dr. Bambang Sunarto, S.Sen., M.Hum., dengan ko-promotor Dr. Drs. Budi Setiyono, M.Si. Adapun tim penguji terdiri dari Prof. Dr. M. Baiquni, S.Si., MA., Prof. Dr. Drs. RM Pramutomo, M.Hum., serta Tito Imanda, S.Sos., M.A., Ph.D. Sidang dipimpin oleh Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. selaku Ketua Sidang, dan Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn. sebagai Sekretaris.
Dalam forum ujian, rancangan disertasi dipaparkan dengan menekankan pendekatan seni partisipatoris dan konsep ruang publik deliberatif, yang menempatkan masyarakat desa sebagai subjek aktif dalam merumuskan persoalan, merancang aksi, menjalankan praktik perfilman, hingga merefleksikan hasilnya secara kolektif. Para penguji memberikan sejumlah masukan strategis, khususnya terkait penguatan kerangka teoretis, ketajaman fokus riset, serta pentingnya orientasi keberlanjutan agar praktik perfilman desa tidak berhenti pada pengalaman artistik temporer, melainkan mampu membangun ekosistem dan infrastruktur budaya yang berjangka panjang.
Usulan penelitian ini direncanakan berlanjut pada studi lapangan selama enam bulan melalui metode Participatory Action Research (PAR) yang akan dilaksanakan di Desa Karang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Studi lapangan tersebut diharapkan menghasilkan luaran praktik baik (best practices) dalam pengembangan ekosistem seni film di perdesaan yang inklusif, deliberatif, dan berkelanjutan. Selain berkontribusi pada penguatan kapasitas masyarakat desa, disertasi ini diharapkan dapat memperkaya wacana dan praktik perfilman Indonesia dengan menghadirkan perspektif desa sebagai bagian penting dari ekosistem seni dan budaya nasional.
