Ujian Proposal S3 Dinar Ayu Astarinny – Artikulasi Gagasan Kebangsaan Guruh Sukarno Putra dalam Pertunjukkan Sri Mimpi Indonesia
PPSISISKA – Program Doktor Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Ujian Komprehensif Desertasi oleh Sdri Dinar Ayu Astarinny NIM. 243121008 dengan judul Artikulasi Gagasan Kebangsaan Guruh Sukarno Putra dalam Pertunjukkan Sri Mimpi Indonesia, pada tanggal 24 November 2025. Proposal ini diselesaikan di bawah bimbingan Promotor Prof. Dr. Drs. RM Pramutomo, M.Hum dan Co Promotor Dr. Drs. Budi Setiyono, M.Si. Ujian dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 24 November 2025 di Ruang Sidang Atas Pascasarjana ISI Surakarta pukul 13.00 – 15.00 dengan susunan Dewan Penguji yang terdiri atas Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. selaku Ketua Penguji, Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., M.Sn. selaku Sekretaris, serta Tim Penguji Prof. Dr. Maryono, S.Kar., M.Hum. Prof. Dr. I Wayan Dana, S.S.T., M.Hum. Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn.
Selama ini, kebangsaan di Indonesia sering dibicarakan melalui politik dan sejarah. Tetapi sebenarnya, ia juga hidup dalam seni pertunjukan. Panggung, tubuh, musik, dan cahaya menjadi cara baru untuk membayangkan Indonesia. Dan Guruh Sukarno Putra adalah salah satu sosok paling kuat dalam proses itu. Sebagai anak dari Soekarno dan sekaligus seorang seniman, Guruh tumbuh dalam lingkungan ideologi kebangsaan sekaligus industri hiburan modern. Di sinilah celah penelitian ini berada. Banyak penelitian tentang karya Guruh berfokus pada koreografi, bentuk tari, atau nilai tradisi—namun belum ada yang mengungkap bagaimana ideologi kebangsaan bekerja melalui tubuh Guruh dan melalui bentuk pertunjukan yang tunduk pada logika industri budaya.
Karena itu, penelitian ini mengajukan tiga pertanyaan utama:
- Bagaimana ideologi kebangsaan membentuk tubuh kreatif Guruh?
- Bagaimana Sri Mimpi Indonesia menampilkan tarik-menarik antara idealisme kebangsaan dan tuntutan industri hiburan?
- Mengapa pertunjukan ini dapat dibaca sebagai artikulasi ideologi kebangsaan Guruh?
Untuk menjawabnya, penelitian ini menggunakan pendekatan etnokoreologi-interdisipliner. Pendekatan ini melihat tubuh bukan hanya sebagai objek gerak, tetapi sebagai tempat ideologi hidup. Peneliti mencoba membaca arsip, wawancara, dokumentasi latihan, serta rekaman pertunjukan untuk menelusuri bagaimana tubuh Guruh dengan kebiasaan, memori gerak, dan pengalaman politik budayanya mewujudkan ideologi dalam bentuk artistik. Selanjutnya menganalisis struktur koreografi Sri Mimpi Indonesia. Formasi massal, sinkronisasi ketat, penggunaan cahaya dan multimedia, hingga momen diam atau jeda, semua itu dibaca sebagai proses negosiasi antara koreografi sebagai teknologi kuasa dan koreografi sebagai praktik politik tubuh.
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menunjukkan bahwa Sri Mimpi Indonesia bukan hanya karya seni, tetapi ruang artikulasi ideologi kebangsaan. Di panggung, Guruh merangkai kembali “Indonesia” sebagai sebuah citra: indah, rapi, harmonis, sekaligus dapat dijual. Di sinilah terjadi perjumpaan antara warisan pemikiran Soekarno dan logika industri budaya modern. Kontribusi penelitian ini adalah menawarkan sebuah konsep baru: manifestasi ideologis tubuh tari, yaitu bagaimana ideologi tidak hanya diucapkan atau diajarkan, tetapi dihidupi melalui tubuh dan diwujudkan melalui bentuk pertunjukan. Pada akhirnya, penelitian ini mengajak kita merenung: ketika kebangsaan hari ini sering direduksi menjadi slogan atau komoditas, seni pertunjukan seperti Sri Mimpi Indonesia memberi kita ruang untuk melihat kembali siapa kita sebagai bangsa bukan melalui kata-kata, tetapi melalui tubuh, gerak, dan pengalaman estetik yang menyentuh.
