Nyanyian Perempuan Pada Ritual Urang Rimbo = Ujian Tugas Akhir S2 Riski Dwi Kemala

Pada 29 Agustus 2025, Riski Dwi Kemala mempresentasikan tesis Pascasarjananya di Institut Seni Indonesia Surakarta. Tesis berjudul “Nyanyian Perempuan Pada Ritual Urang Rimbo” tersebut merupakan hasil penelitian panjang yang dimulai sejak 2014, melibatkan interaksi mendalam dengan masyarakat adat Urang Rimbo atau Suku Anak Dalam (SAD) di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Provinsi Jambi. Ujian akhir ini dipimpin oleh Ketua Penguji Dr. Drs. Budi Setiyono, M.Si., bersama Penguji Utama Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn., serta dosen pembimbing Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn. Karya ini membawa temuan penting mengenai peran perempuan dalam ritual Melantok Sialong, khususnya melalui tradisi vokal sakral yang dikenal sebagai Nyanyian Numboi.

Penelitian Kemala menempatkan Nyanyian Numboi sebagai pusat analisis, yakni unsur musikal dan performatif yang mengarahkan jalannya Melantok Sialong—sebuah ritual pengambilan madu dari Batang Sialong yang bagi Urang Rimbo tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga merupakan tindakan spiritual yang merepresentasikan hubungan manusia dengan leluhur dan penjaga hutan. Dalam ritual ini, perempuan memiliki kedudukan strategis: mereka adalah penjaga keseimbangan ekologis, penerus garis matrilineal, penghubung antara dunia manusia dan dunia gaib, sekaligus pemilik pengetahuan yang memastikan ritus berlangsung sesuai ketentuan adat.

Melalui pendekatan etnografi dan analisis performativitas, penelitian ini mengidentifikasi empat bentuk utama Nyanyian Numboi—Numboi Nulako Hantu Kayu, Numboi Manjat, Numboi Mbujuk Rapah, dan Numboi Mulangko Hantu Kayu. Keempat bentuk ini berfungsi sebagai perangkat kosmologis yang mengatur relasi manusia dengan kekuatan spiritual penjaga hutan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Numboi bukan sekadar ekspresi musikal, melainkan sistem pengetahuan ekologis dan etika ritual yang diwariskan antar generasi. Pemaknaan ini sejalan dengan pandangan teoretis para pemikir ritual dan performativitas—seperti Victor Turner, Stanley Tambiah, Judith Becker, dan Mircea Eliade—yang menegaskan bahwa ritual menjadi medium penghubung antara manusia dan tatanan kosmos yang menopang kehidupan.

Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kekuatan perempuan Urang Rimbo tidak diwujudkan melalui figur-figur heroik sebagaimana peran dan kedudukan perempuan dalam tradisi Sumatra lainnya, tetapi melalui kehadiran yang senyap dan fungsional. Perempuan menjadi pusat stabilitas komunitas: mereka menjaga pengetahuan, menata etika ekologis, dan memastikan kelestarian ritus di tengah tantangan modernisasi, eksploitasi hutan, serta perubahan kebijakan yang mengancam ruang hidup mereka.

Melalui dokumentasi teks dan melodi Numboi, pemetaan struktur ritual, serta analisis atas posisi perempuan dalam kosmologi Urang Rimbo, tesis ini berkontribusi signifikan bagi kajian seni, etnomusikologi, antropologi ritual, dan studi gender di Indonesia. Temuan-temuan tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan tradisi tidak hanya ditentukan oleh ritual itu sendiri, tetapi oleh subjek-subjek yang menjaganya—dalam hal ini, perempuan.

Pada bagian penutup, Kemala merumuskan satu refleksi yang merangkum keseluruhan temuannya:
“Setiap yang berakar, memiliki dan dimiliki oleh seorang Ibu.”
Sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa perempuan, sebagaimana hutan, merupakan sumber kehidupan dan penyangga keberlanjutan ekologis maupun spiritual komunitas Urang Rimbo.