Representasi Keperempuanan dalam Musik Tari “Tidi Lo Polopalo” Gorontalo – Ujian Tugas Akhir Magister oleh Sri Rahayu H. Miu
PPS-ISI-SKA – Program Pascasarjana Program Magister Seni, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menyelenggarakan Ujian program Magister oleh Sri Rahayu H. Miu dengan judul penelitian: Musik dan Representasi Keperempuanan Dalam Tarian “Tidi Lo Polopalo” di Masyarakat Gorontalo.
��️ Waktu dan Tempat Pelaksanaan Ujian
- Hari, Tanggal: Kamis, 16 Oktober 2025
- Waktu: Pukul 13.00–15.00 WIB
- Tempat: Ruang Sidang Atas Lantai 2 Pascasarjana ISI Surakarta
���� Dewan Penguji dan Pembimbing
- Ketua Penguji: Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn.
- Penguji 1: Dr. Drs. Budi Setiyono, M.Si.
- Pembimbing: Dr. Aris Setiawan, M.Sn.
Penelitian ini membahas tentang bentuk musik dalam iringan tari Tidi Lo Polopalo pada upacara adat pernikahan (Hui Mopotilandahu) di Gorontalo serta mengeksplorasi bagaimana musik tersebut menguatkan peran citra keperempuanan yang direpresentasikan dalam tarian tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam fenomena musik dan representasi keperempuanan dalam tarian. Pendekatan yang digunakan adalah musikologis, yaitu kajian ilmiah yang berfokus pada struktur, fungsi, dan konteks musik itu sendiri. Pendekatan ini esensial untuk membongkar elemen-elemen musikal tari Tidi Lo Polopalo dan kaitannya dengan makna kultural yang terkandung.
Penelitian ini mengeksplorasi secara komprehensif bentuk musik dalam iringan tari Tidi Lo Polopalo pada upacara adat pernikahan Gorontalo, serta bagaimana musik tersebut secara signifikan menguatkan citra keperempuanan yang direpresentasikan. Berdasarkan analisis struktur formal, musik dalam tarian ini berpola A-A’-B-A”, yang secara keseluruhan membentuk pola ternary dengan variasi. Struktur musik ini terbukti menguatkan gerak tari dengan menciptakan keseimbangan antara pengulangan dan pengembangan. Penyusunan motif dan frase musik cenderung simetris, umumnya terdiri dari 4 + 4 birama. Kemudian pada Pola tabuhan rebana yang digunakan memiliki pola ketukan 3, 5, dan 7, yang menciptakan landasan ritmis dinamis bagi gerak tarian. Penguatan Citra Keperempuanan: Musik secara signifikan menguatkan representasi keperempuanan melalui ketukan rebana yang tegas, yang memberikan landasan ritmis bagi gerakan penari perempuan, sehingga tercipta keselarasan antara kekuatan bunyi dan kelembutan gerak. Keterkaitan antara peran laki-laki dan perempuan dalam tarian ini dapat dipahami sebagai cerminan sinergi dalam kehidupan berumah tangga sesuai dengan upacara adat pernikahan Hui Mopotilandahu.
