Kuntadi Wasi Darmojo Resmi Raih Gelar Doktor Seni ISI Surakarta dengan Penelitian tentang Keris Surakarta Tangguh Paku Buwono X
PPSISISKA-Surakarta, 29 September 2025 — Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menorehkan prestasi akademik melalui penyelenggaraan Ujian Terbuka Promosi Doktor Seni yang dilaksanakan oleh Program Pascasarjana ISI Surakarta. Dalam kesempatan ini, Kuntadi Wasi Darmojo secara resmi mempertahankan disertasinya yang berjudul “Keris Surakarta Tangguh Paku Buwono X: Bentuk, Makna, dan Fungsi” di hadapan dewan penguji.
Kegiatan ujian terbuka berlangsung di Gedung Pascasarjana ISI Surakarta, dengan dihadiri oleh pimpinan institusi, sivitas akademika, keluarga, serta tamu undangan. Sidang ujian terbuka dipimpin oleh Ketua Penguji: Prof. Dr. I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum, yang didampingi Dr. Zulkarnain Mistortoify., M.Hum selaku Sekretaris Penguji. Kemudian tim promotor terdiri atas Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum selaku Promotor, Prof. Dr. Sarwanto, S.Kar., M.Hum. selaku Co-Promotor 1, dan Dr. Bagus Indrayana, S.Sn., M.Sn selaku Co-Promotor 2. Adapun tim penguji terdiri atas guru besar dan pakar di bidang seni dan budaya dari ISI Surakarta maupun perguruan tinggi mitra, antara lain: Prof. Dr. Soetarna, DEA selaku Penguji 1, Prof. Dr. Timbul Haryono. M.Sc selaku Penguji 2, Prof. Dr. Sri Rochana W, S.Kar., M.Hum selaku Penguji 3, dan Dr. Karju M. Pd selaku Penguji 4.
Dalam pemaparannya, Kuntadi Wasi Darmojo menjelaskan bahwa keris tangguh Surakarta pada masa Paku Buwono X tidak hanya berperan sebagai senjata simbolik, tetapi juga mengandung nilai-nilai estetika, spiritualitas, dan politik budaya yang mencerminkan kemajuan peradaban keraton pada awal abad ke-20. Melalui pendekatan kajian seni dan budaya, dengan teori hegemoni budaya dari Gramsci & William, dan konsep estetika nusantara perkerisan (Hadiwioyo) yang telah dikembangkan oleh Haryoguritno, yang dilengkapi dengan teori sistem simbol (tanda) dari Barthes, Geertz dan Eco. Disertasi ini berhasil mengungkap konsep tangguh, bentuk, dan makna hingga fungsi keris dalam konteks budaya. Temuan dalam penelitian disertasi ini antara lain; (1). Konsep tangguh keris Surakarta Tangguh Paku Buwono X, dan Munculnya konsep tangguh keris Surakarta Paku Buwono X karena merupakan legetimasi raja, untuk menunjukkan kewenangan dan mempertahankan kekuasaan sesuai dengan konsep kepemimpinan Jawa, serta sebagai ekspresi hegemoni budaya.
(2). Keris yang terbuat dari bahan yang berkualitas dengan pola pamor jelas, dan memiliki bentuk proposional, utuh, orisinil, dan menampilkan teknik garap yang sempurna (perfect), maka dapat dikatakan bahwa keris tangguh Surakarta Paku Buwono X, merupakan representatif dari bentuk keris sembada mrebawa. (3). Keris tangguh Surakarta pada masa Paku Buwono X adalah simbol yang menyatukan makna filosofis dengan fungsi sosial-budaya, sehingga menjadikannya keris tidak hanya sebagai pusaka, tetapi juga sebagai instrumen legitimasi, identitas, dan pelestarian budaya Jawa.
Dalam sambutan penutupnya, Prof. Dr. I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum. menyampaikan apresiasi terhadap capaian akademik yang diraih Kuntadi. “Penelitian ini memperlihatkan bagaimana seni tradisi seperti keris mampu menjadi sumber pengetahuan dan kebanggaan nasional. ISI Surakarta berkomitmen terus melahirkan doktor yang mampu mengembangkan warisan budaya dalam konteks keilmuan modern,” ujarnya.
Melalui ujian terbuka ini, Kuntadi Wasi Darmojo dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, dan secara resmi berhak menyandang gelar Doktor Seni (Dr.) yang ke 104 di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Pencapaian ini menjadi bukti nyata kontribusi akademik ISI Surakarta dalam melahirkan peneliti dan seniman yang berintegritas, berwawasan budaya, serta berdedikasi terhadap pelestarian nilai-nilai seni Nusantara.
Narahubung:
Humas Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
Jl. Ki Hadjar Dewantara No. 19, Kentingan, Surakarta
Email: humas@isi-ska.ac.id




