Lagu Daerah Palembang Studi Kasus Karya Kemas Anwar Beck – Ujian Tertutup S3 Irawan Sukma
PPSISISolo – Pascasarjana ISI Surakarta menyelenggarakan Ujian Tertutup Disertasi Irawan Sukma pada hari Rabu tanggal 10 September 2025 di Ruang Rapat Bawah Pascasarjana ISI Surakarta dengan judul disertasi “Lagu Daerah Palembang Studi Kasus Karya Kemas Anwar Beck”.
Pada ujian yang dimulai pukul 13.00 hingga 16.00 WIB ini, dihadiri dewan penguji sebagai berikut: 1) Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum. sebagai Ketua Penguji; 2) Dr. Zulkarnain Mistortify, M.Hum. sebagai Sekretaris; 3) Prof. Dr. Sri Rochana W, S.Kar., M.Hum. sebagai Promotor; 4) Dr. Aton Rustandi Mulyana, S.Sn., M.Sn. sebagai Ko Promotor; 5) Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A., M.Phil. sebagai Penguji I; 6) Prof. Dr. I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum. sebagai Penguji II; 7) Prof. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si. sebagai Penguji III; 8) Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn. sebagai Penguji IV; dan 9) Dr. Kemas A.R. Panji, S.Pd., M.Si. sebagai Penguji V.
Lagu daerah Palembang adalah lagu daerah yang liriknya menggunakan bahasa Palembang (Palembang Alus atau Palembang Sari- sari) bahkan menggunakan bahasa campuran dengan bahasa Indonesia, biasanya diciptakan oleh putra daerah dan bernuansa khas kedaerahan setempat, baik lirik lagu, makna, instrumen, dan alat musik pendukungnya.
Terkait hal fenomena lagu berbahasa daerah Palembang, Kemas Anwar Beck dikenal sebagai salah seorang dari pencipta lagu daerah di Sumatera Selatan yang produktif. Kemas Anwar Beck menciptakan lagu daerah dengan menggunakan bahasa daerah setempat. Kemas Anwar Beck lebih fokus sebagai seorang penulis lagu (pencipta lagu). Ia menyatu sebagai musisi, memiliki bakat dan kemampuan bermusik, khususnya menulis lagu.
Berdasarkan data yang dikumpulkan dan diperoleh dari observasi awal, antara lain lagu-lagu ciptaannya menggunakan bahasa daerah Sumatera Selatan (bahasa Komering, bahasa Semende, bahasa Kayu Agung, bahasa Musi, bahasa Rawas, dan bahasa Palembang). Terdapat 32 lagu karya Kemas Anwar Beck berbahasa daerah Palembang, bahasa Palembang Alus sebanyak 15 lagu dan bahasa Palembang sari-sari sebanyak 17 lagu. Sisanya lagu dari daerah lain seperti; Empat Lawang, Lahat, Sekayu, Musi Rawas, Kayu Agung, dan lagu Mars (Nasional). Total lagu yang sudah diciptakan oleh Kemas Anwar Beck sebanyak 111 lagu. Hampir semua lagu ciptaannya bergenre pop Melayu, dan diminati oleh berbagai lapisan masyarakat.
Penelitian atau kajian ini terfokus pada lagu daerah berbahasa Pelembang (Alus dan Sari-sari) khususnya karya Kemas Anwar Beck, meskipun banyak pencipta lagu daerah Palembang lainnya, tetapi peneliti lebih memilih Kemas Anwar Beck sebagai subjek penelitian terkait konsistensi Kemas Anwar Beck dalam menciptakan lagu daerah Palembang, isi dan tema lagunya bervariatif, tempo dan dinamika musiknya beragam, dan yang paling khusus karena banyak lagu ciptaannya yang popular. Namun tak hanya itu, penelitian ini mengananilis juga lagu berbahasa Rawas dan Empat Lawang karya Kemas Anwar Beck yang populer dan dikenal oleh masyarakat luas. Beberapa lagu yang dipilih untuk dianalisis antara lain: Madak Cak Gidik (1960) dari Kabupaten Lintang Empat Lawang, Nasib Kulo (1976), Kembang Sriwijaya (1978), Musimu Musiku (1979), Kemano Pegi (1980), Singgah Kudai (1982) dari Kabupaten Lintang Empat Lawang, Gadis Pingitan (1985), Ayun Besema (1986), Raso-raso (1986), Cek Ayu (1989), Dere Baju Abang (1989) dari Kabupaten Musi Rawas dan Keladi Tumbuh di Lebak (1990).
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap lagu daerah Palembang karya Kemas Anwar Beck terkait wujud musikal, liriknya dan konsistensinya mengggunakan bahasa Palembang Alus dan Sari-sari serta identitas budaya. Hal ini menarik untuk dikaji bahwa Kemas Anwar Beck tidak hanya mencipta lagu tetapi ia berupaya membangun identitas budaya Palembang melalui lagu ciptaannya.
Penelitian ini bersifat kualitatif, menggunakan pendekatan studi kasus. Permasalahan yang terjadi mirisnya penggunaan bahasa Palembang Alus di masyarakat karena mereka beranggapan bahwa bebaso hanya digunakan oleh kaum bangsawan Kesultanan Palembang Darussalam saja baik secara lisan maupun tulisan. Sumber data primer diperoleh melalui observasi langsung, rekaman audio visual dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA).
Irawan menyimpulkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lagu daerah karya Kemas Anwar Beck memiliki musikalitas yang baik, motif dan bentuk lagunya simpel terdiri atas A-B dan A-B-C, lirik menggunakan pilihan kata yang tepat, dan memiliki kekhasan sendiri, sehingga dapat diterima di masyarakat serta temponya bervariasi. Kemas Anwar Beck secara konsisten menggunakan bahasa Palembang (Alus dan Sari-sari) dalam menciptakan lagunya. Temanya berkaitan dengan pelapisan masyarakat Palembang wong jaboo dan wong jeghoo. Kemas Anwar Beck turut membangun dan memperkuat identitas budaya berperan sebagai penyanyi, maestro pencipta lagu, penyiar radio, penutur bahasa Palembang, dan menanamkan nilai-nilai kearifan lokal serta menjadi penggiat budaya Palembang melalui jalur seni.
“Implikasi dari penelitian ini sebagai berikut: 1) Hasil penelitian ini diharapakan dapat memberikan kontribusi yang besar kepada masyarakat untuk dapat mengenal lebih jauh sosok Kemas Anwar Beck dan beberapa seniman lokal lainnya, sehingga dapat dimunculkan buku biografi seniman Palembang. Selain itu, ada buku kumpulan lagu-lagu daerah Palembang dari beberapa seniman Palembang yang dilengkapi dengan notasi dan barcode audionya, sehingga dapat dengan mudah diajarkan di sekolah-sekolah; dan 2) Diadakan lokakarya yang diselenggarakan oleh kampus Seni Pertunjukan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dewan Kesenian Palembang, terkait pengenalan lagu-lagu daerah Palembang bagi guru Seni Budaya dan para pelajar jenjang SD dan SMP, dengan pemateri pakar akademisi, seniman lokal, dan musisi lokal”, ujar Irawan sebagai penutup.

