Terapi Imajinasi Orang-Orang Pilihan oleh Aditya Wahyu Ramadhan – Ujian Kelayakan S3

PPSISISKA – Program Doktor Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelenggarakan Ujian Kelayakan Disertasi berjudul Terapi Imajinasi Orang-Orang Pilihan oleh Aditya Wahyu Ramadhan. Karya disertasi ini diselesaikan di bawah bimbingan Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. sebagai promotor dan Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn. sebagai Ko-Promotor. Ujian dilaksanakan pada hari Senin tanggal 5 Agustus 2025 di Ruang Sidang Pascasarjana ISI Surakarta, dengan susunan dewan penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum. selaku Ketua Penguji, Dr. Zulkarnanain Mistortoify, M.Hum. selaku Seketaris Penguji, serta Prof. Dr. Drs. RM. Pramutomo, M.Hum., Dr. dr. A. Herdaetha, Sp.KJ, M.H. dan Prof. Dra. Kwartarini Wahyu Yuniarti, Med.Sc.Ph.D. Psikolog selaku anggota tim penguji.
Disertasi karya seni ini menguraikan tentang terapi imajinasi sebagai suatu metode penciptaan yang spesifik oleh pengkarya dengan konsep hiperrealitas dalam menciptakan terapi seni atau tepatnya terapi visual bagi sepuluh orang klien skizofrenia, yang dalam hal ini disebut orang-orang pilihan atau klien, dalam mengaktifkan kembali kemampuan kognitif, meminimalisir delusi dan halusinasi. Hiperrealitas di sini diambil dari seluruh data yang diimajinasikan.

Dapat dikatakan bahwa pemanfaatan dokumen dan arsip mereka merupakan media utama dari apa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Baik itu properti yang digunakan, lagu/musik, kebiasaan sehari-hari, dan lain-lain, digunakan sebagai sarana dan bahan dasar utama dalam terapi imajinasi. hingga menjadi tradisi tulis, termasuk dalam perkembangan naskah primbon pawukon bergambar yang di dalamnya terkandung nilai budaya rupa masyarakat Jawa sebagai penciptanya.

Penelitian ini dibatasi sesuai dengan bidang keilmuan desain komunikasi visual, sehingga objek yang dikaji lebih difokuskan pada analisis distribusi visual pada ilustrasi pawukon. Dalam hal ini, ilustrasi pawukon yang merupakan sebuah karya rupa dilihat sebagai perwujudan visual yang terdiri dari elemen-elemen yang tersusun menjadi sebuah komposisi visual.
Terapi imajinasi diposisikan sebagai suatu metode penciptaan yang diambil dari cerita, keinginan, dan imajinasi klien yang belum terealisasi yang dipadukan dengan visual hiperrealitas. Proses ini didekati dengan persinggungan-persinggungan yang berulang seperti berkolaborasi dalam mewujudkan visual untuk kemudian dicek ulang dan dievaluasi bersama. Visual mana yang tidak disukai dan disukai, dan imajinasi apa saja yang hendak diwujudkan sebagai pengembangan lebih lanjut, dari persinggungan pertama sampai dengan persinggungan kesepuluh yang berlangsung sekitar satu sampai dua jam, sebelum akhirnya dinilai oleh psikiater pada PANSS (Positive and Negative Syndrome Scale), yaitu skala yang digunakan untuk menilai gejala positif dan negatif klien dalam penelitian klinis dan psikofarmakologi PANSS, sebelum diwujudkan berupa lab kolaboratif.


Hasil penelitian menunjukkan: 1) Terapi imajinasi dalam hal ini dapat disebut sebagai salah satu bentuk pemberian keyakinan untuk memproses apa yang diharapkan oleh setiap klien. 2) Konsep hiperrealitas juga merupakan kerja berkelanjutan dari upaya untuk mengaktifkan kembali kemampuan kognitif dari apa yang dihadapi sehingga keinginan menjadi berdaya dan setara. 3) Akses ini erat kaitannya dengan keyakinan diri dalam mewujudkan keinginan terdalam di hari-harinya klien.