Ngalang – Ujian Tugas Akhir Karya Seni S2 Putri Novalita
Ujian Tugas Akhir Karya Seni S2 Putri Novalita diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2025 di depan gedung Galeri Kampus 2 ISI Surakarta dengan judul Tesis Ngalang. Adapun susunan penguji sebagai berikut:
– Ketua Penguji : Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum
– Pembimbing : Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A
– Penguji : Dr. Daryono, S.Kar., M.Hum
Karya “Ngalang” merupakan pembacaan kritis hermeneutika yang diimplementasikan dalam karya tari. Hermeneutika sebagai ilmu penafsiran yang mendukung penafsiran lebih luas pengkarya dalam menggali makna-makna tersembunyi dari suatu fenomena. Dalam karya “Ngalang” pembacaan ini tidak sekadar merepresentasikan, tetapi juga menginterpretasi ulang realitas kehidupan masyarakat Kalang. Fokus utama interpretasi “Ngalang” adalah pada elemen ruang melalui visualisasi pohon jati dan penggunaan kain yang membentuk struktur labirin. Pohon jati bukan hanya sekadar elemen alam biasa bagi masyarakat Kalang. Ia adalah simbol yang bermakna, seringkali terkait dengan ekosistem hutan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan spiritualitas mereka. Melalui hermeneutika, pengkarya membaca pohon jati sebagai representasi dari lingkungan alam yang membentuk identitas Kalang, sumber daya, serta tempat nilai-nilai dan keyakinan tradisional berasal. Di sisi lain, labirin yang divisualisasikan dari kain menjadi metafora yang kuat untuk perjalanan atau pencarian. Labirin dapat diartikan sebagai simbol dari kompleksitas hidup, perjuangan, atau bahkan pencarian makna spiritual dan identitas dalam komunitas.
Karya “Ngalang” menjadi sebuah ekspresi imajinasi dan intensitas tentang penyatuan mendalam antara manusia dan alam. Dalam karya ini, manusia direpresentasikan secara horizontal sebagaimana mereka yang memijak bumi dan yang menjalani hidup sehari-hari. Sementara alam menjulang tegak lurus secara vertikal, sebagai kekuatan yang agung dan tak terbatas. Kedua dimensi ini saling terjalin erat dalam sebuah ritualistik penuh dengan intensitas. Setiap elemen dalam “Ngalang” dipenuhi lapisan makna yang beragam, yang berangkat dari spirit semangat gotong royong, prinsip kebersamaan dan tolong menolong yang kental dalam masyarakat Kalang. “Ngalang” berusaha memberikan tawaran-tawaran bentuk yang muncul dari intensitas yang ritualisti dengan mengolah serta memaknai ruang site spesific.
Pada akhirnya, “Ngalang” tidak lagi hanya tentang Kalang melainkan tentang hermeneutika atau perspektif baru tentang intensitas, mitigasi, dan ritualistik. Tanpa alur cerita linear, karya ini adalah bentuk-bentuk yang muncul dari intensitas dan ritualistik, menyoroti manusia lebih dari sekadar desain budaya Kalang yang konvensional. Melalui “Ngalang” penonton diajak untuk melihat dan merasakan bagaimana keyakinan ini terwujud dalam hubungan mereka dengan alam dan dalam perjalanan hidup mereka yang disimbolkan oleh labirin. Ini adalah upaya untuk menyajikan narasi yang lebih general dan bermakna tentang masyarakat Kalang. Karya “Ngalang” tidak hanya menyajikan karya tari, tetapi juga sebuah dialog hermeneutis antara pengkarya, penonton, dan kebudayaan Kalang itu sendiri. Dengan cara ini, nilai-nilai dalam Kalang Obong dapat ditransformasikan menjadi simbol yang lebih inklusif, tetap berakar pada identitas lokal, dan terus diperbarui melalui dialog kritis dalam ruang publik. Pertunjukan ini menjadi medium bagi penonton untuk merenungkan dan menafsirkan kembali pemahaman mereka tentang masyarakat Kalang, mendorong apresiasi yang lebih besar terhadap kekayaan dan kompleksitas budaya mereka.
Metode dalam penciptaan karya ini menggunakan prinsip Re-Visiting, Re-Questioning, Re-Interpretating. Proses penciptaan dimulai dari Tema Karya, Konsep Karya, Isi Karya, Langkah Penciptaan, dan Proses Penggarapan. Karya Ngalang menjadi media pelestarian budaya yang dirancang untuk dinikmati dan diinterpretasi bebas, menghadirkan refleksi personal dan edukasi tentang spiritualitas, nilai hidup, dan kearifan lokal orang Kalang. Dengan menerjemahkan data riset tentang keyakinan, praktik ritual, dan interaksi sosial mereka ke dalam bentuk pengalaman estetis, “Ngalang” berfungsi sebagai jembatan artistik. Ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah panggilan untuk membangkitkan kesadaran yang lebih mendalam tentang kekayaan budaya Kalang dan refleksi keseimbangan dan keselarasan antara manusia dengan alam.



