Tari Satai Karya Harun Pasir Sebagai Bentuk Pelestarian Tradisi Berimou Perulai Di Desa Koto Tuo – Ujian Kelayakan Resa Ulfa Meryn S2

Program Pascasarjana Program Magister Seni, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, mengadakan Ujian Kelayakan Pengkajian Seni untuk Resa Ulfa Meryn. Topik yang diangkat adalah Tari Satai Karya Harun Pasir Sebagai Bentuk Pelestarian Tradisi Berimou Perulai Di Desa Koto Tuo. Ujian ini dilaksanakan pada hari Jumat, 04 Juli 2025, pukul 13.00–15.00 WIB di Ruang Sidang Pasca Sarjana Isi Surakarta. Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum Sebagai Ketua Penguji Prof. Dr. RM. Pramutomo, M.Hum Sebagai Penguji, didampingi oleh pembimbing Dr. Slamet, M.Hum. Penelitian ini berisi tentang bentuk pelaestarian dari tradisi Barimou Parulai menjadi bentuk pertunjukan Tari Satai.
Dalam uijannya, Resa Ulfa Meryn menyampaikan, bahwa Tari Satai merupakan salah satu tari yang berasal dari Desa Koto Tuo Provinsi Jambi. Kata Satai berasal dari bahasa Kerinci yang artinya sakti, tari ini diciptakan oleh Harun Pasir pada tahun 1981. Tarian ini merupakan perwujudan bentuk baru pada sebuah. tradisi dari Barimou Perula ke bentuk tari. Tari ini juga merupakan suatu aktifitas yang dilakukan secara turun temurun, demikian juga tradisi Berimou Perulai. Tradisi Berimou Perulai merupakan salah satu tradisi tolak balak. yang biasanya dilakuakan ketika terjadinya kemalangan terhadap ibu- ibu hamil. Seperti meninggalnya bayi di dalam kandungan atau meninggalnya seorang ibu pada saat proses persalinan.

Sejalan dengan penjelasan di atas memberi pengetahuan tentang tradisi Berimou Perulai dilakukan sebagai tolak-balak. Melihat tradisi Barimaou Perulai sudah tidak dilaksanakan lagi di. Desa Koto Tuo. Maka seniman yang ada di Desa tersebut yaitu Harun Pasir mengangkatnya menjadi sebuah tarian penyambutan tamu yang diberi nama Tari Satai. Setelah Tari Satai itu diciptakan bertepatan dengan adanya. festifal danau kerinci yang menampilkan tarian daerah dari masing- masing desa. Masyarakat Koto Tuo meminta Harun Pasir mewakili Desa untuk menampilkan Tari Satai pada acara tersebut. Tari Satai dipahami sebagai suatu perwujudan secara simbolik dari Tradisi Berimou Perulai ke pertunjukan Tari Satai.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif selain itu menggunakan pendekatan etnokoreologi dengan metode etnografi tari. Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah dengan Observasi, Wawancara, dan Studi Pustaka, setelah melakukan kegiatan diatas selanjutnya analisis data Data yang diperoleh di lapangan kemudian dikelompokan sesuai dengan sifat dan jenisnya, yang nantinya dijadikan bab perbab.
Hasil Penelitian ini bahwa Tari Satai karya Harun Pasir adalah karya yang dibentuk sebagai pengabadian tradisi Berimou Perulai. Tari ini menjadi tari penyambutan tamu karena masyarakat Desa Koto Tuo terus membentuk tari ini agar dapat dilestarikan dan dijaga keasliaannya. Musik pengiring Tari Satai dihasilkan dari suara Gong, Kentungan dan Gendang. Gong yang merupakan alat musik tradisi masyarakat Kerinci khusus nya di Desa Koto Tuo menjadi instrument utama dalam Tari Satai. Gerakan Tari Satai adalah simbol-simbol yang memiliki makna dalam masyarakat Desa Koto Tuo dan tradisi Berimou Perulai. Pada gerakan kepala, Tari Satai mengaplikasikan gerakan menoleh ketika berzikir pada tradidi Brimou Perulai. Peneliti berharap pada penelitian ini tidak hanya berhenti pada pembahasan Tari Satai dan makna simbolis Tari Satai. Peneliti mengharapkan adanya penelitian baru dan perkembangan baru pada kajian Tari Satai karya Harun Pasir yang dapat dibahas lebih lanjut.