Studi Kasus: Kejenakaan Limbuk Cangik Pada Pertunjukan Wayang Kulit Media Digital – Ujian Proposal S3 Ndaru Ranuhandoko
Ujian Proposal S3 Ndaru Ranuhandoko diselenggarakan pada tanggal 14 Mare 2025 dengan judul disertasi Studi Kasus: Kejenakaan Limbuk Cangik Pada Pertunjukan Wayang Kulit Media Digital. Ujian ini menghadirkan para penguji yaitu: Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum. sebagai Ketua Penguji, Dr. Handriyotopo, S.Sn. sebagai Sekretaris, Prof. Dr. Bambang Sunarto, M.Sn. sebagai Promotor, Dr. Winny Gunarti Widya Wardani, M.Ds. sebagai Ko Promotor. Kemudian bertindak sebagai Penguji yaitu: Prof. Dr. Sugeng Nugroho, S.Kar., M.Sn., Dr. Dra. tatik Harpawati, M.Sn. dan Dr. Pandu Pramudita, M.A.
Dalam proposal disertasi ini dijabarkan oleh Ndaru Ranuhandoko tentang kejenakaan wayang kulit pada wayang Limbuk dan Cangik pada media digital yang diteliti dari boneka wayang sebagai visual bentuk, isi pertunjukan pada media digital sebagai daya tarik pertunjukan, dan adegan sebagai kajian tentang kejenakaan. Penelitian ini diharapkan menemukan konsep kejenakaan pada visual bentuk, daya tarik penonton, dan adegan pada pertunjukan wayang kulit pada karakter Limbuk dan Cangik.
Limbuk dan Cangik tidak hanya hadir untuk menghibur, tetapi juga menjadi alat untuk menyampaikan pesan sosial dan budaya dengan cara yang halus. Di dalam pertunjukan wayang, lêlucon atau guyonan yang dibawakan oleh Limbuk dan Cangik sering kali melibatkan dialog yang penuh permainan kata, gerakan tubuh yang berlebihan, dan interaksi konyol yang menimbulkan efek komedi di antara lakon sebagai adegan serius.
Penelitian ini menjadi penting karena fenomena perubahan media berimplikasi pada bagaimana elemen jenaka dalam pertunjukan wayang kulit, khususnya karakter Limbuk dan Cangik, bertahan atau bahkan mengalami transformasi ketika berpindah dari pertunjukan langsung ke format digital. Kejenakaan dalam pertunjukan secara langsung yang memiliki struktur yang kompleks, mencakup lakon yang disajikan, interaksi fisik, dialog, gerakan, dan respons langsung dari audiens.
Penelitian ini dapat diyakini terbebas dari duplikasi terhadap penelitian-pnelitian yang pernah ada. Di sisi lain, literatur-literatur itu telah berperan membangun fame berpikir dalam penelitian ini. Artinya, berdasarkan studi literatur yang dilakukan di atas dapat ditegaskan bahwa penelitian ini memiliki posisi yang kuat untuk mengungkap masalah kejenakaan dalam seni pertunjukan tradisional yang beradaptasi pada media digital melalui studi kasus Limbuk Cangik.
Identifikasi dan pengembangan kejenakaan dalam adegan Limbuk dan Cangik dalam media digital bukan hanya untuk mempertahankan tradisi. Identifikasi dan pengembangan kejenakaan itu juga memastikan bahwa wayang kulit tetap menjadi medium yang relevan dalam menyampaikan pesan sosial dan budaya kepada masyarakat modern. Kejenakaan ini menjadi elemen penting yang menghubungkan warisan budaya dengan perkembangan zaman, sehingga memastikan kelangsungan seni pertunjukan wayang kulit pada media digital.
Penelitian ini tidak hanya ngadopsi konsep estetika-sanggit, tetapi juga memperdalamnya dengan mengeksplorasi bagaimana makna yang hadir di kejenakaan karakter Limbuk Cangik, berubah ketika dihadirkan pada media digital. Media digital, terutama media berbagi video seperti YouTube, menjadi alat untuk menyampaikan konten budaya tradisional dengan estetika.