Terapi Imajinasi Orang-Orang Pilihan – Ujian Proposal S3 Aditya Wahyu Ramadhan

Pada tanggal 9 Mei 2025 dilaksanakan ujian Proposal S3 atas nama Aditya Wahyu Ramadhan di ruang Sidang Atas Pascasarjana ISI Surakata dengan judul disertasi Terapi Imajinasi Orang-Orang Pilihan.

Bertindak sebagai tim penguji dalam ujian ini adalah Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum. sebagai Ketua Panitia, Dr. Zulkarnain Mistortoify sebagai Sekretaris, M.Hum., Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. sebagai Promotor, Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn. sebagai Ko Promotor dan Prof. Dr. Drs. RM. Pramutomo, M.Hum., Dr. dr. Adriesti Herdaetha, Sp.Kj., MH, Prof. Dra. Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med.Sc., Ph.D. sebagai Penguji.

Dalam ujiannya, Aditya menyampaikan bahwa kesehatan mental merupakan aspek penting dalam menjaga keseimbangan hidup seseorang, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Individu yang sehat mental akan mampu beradaptasi dengan lingkungannya, berpikir jernih, serta menjalani hidup dengan rasa aman dan tenteram. Namun, kenyataannya, gangguan mental seperti skizofrenia masih menjadi masalah besar di tingkat global, termasuk di Indonesia. Skizofrenia tidak hanya mengganggu fungsi kognitif dan sosial penderitanya, tetapi juga dapat menyebabkan disabilitas dan berdampak pada kualitas hidup, keluarga, serta lingkungan sosial penderita.

Pendekatan medis seperti pemberian antipsikotik merupakan terapi utama yang selama ini digunakan, namun penggunaan jangka panjang memiliki banyak risiko. Efek samping seperti penurunan volume otak, gangguan metabolik, dan resistensi terhadap pengobatan menjadi tantangan serius dalam penanganannya. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan tambahan yang lebih humanis, kreatif, dan mampu melibatkan klien secara aktif.

Salah satu pendekatan alternatif yang mulai dikembangkan adalah terapi seni, seperti melukis, bermain tanah liat, atau membuat kerajinan. Terapi seni terbukti mampu menjadi sarana ekspresif untuk membantu klien mengelola emosi, mengekspresikan diri, serta memperbaiki interaksi sosial. Namun, terapi ini masih bersifat satu arah dan kurang mampu memberikan data perkembangan psikologis yang mendalam dari tiap individu.

Menjawab tantangan tersebut, hadir konsep soul mapping—sebuah pendekatan terapi berbasis imajinasi yang menggunakan media multimedia interaktif. Soul mapping menggabungkan elemen seni visual, suara, narasi personal, dan teknologi seperti video mapping. Dalam metode ini, klien yang disebut sebagai “orang-orang pilihan” diberi ruang untuk bercerita secara bebas, mengekspresikan perasaannya, hingga memetakan jiwanya melalui rangsangan visual dan audio yang dirancang secara kreatif.

Soul mapping menggunakan Desain Eksperimen Kasus Tunggal (Single-Case Experimental Design), yang memungkinkan evaluasi perkembangan psikologis klien secara individual. Setiap klien diposisikan bukan hanya sebagai objek terapi, tetapi juga sebagai subjek aktif dalam proses penciptaan dan pemulihannya. Proses ini mendukung klien untuk mengakses memori, mengenali halusinasi, mengelola stres, dan menumbuhkan kemampuan reflektif serta kesadaran emosionalnya.

Lebih dari itu, soul mapping bertujuan untuk menciptakan interaksi visual yang membangkitkan respon sensorik dan afektif. Dengan menstimulasi indera melalui gambar, suara spiritual, narasi personal, hingga permainan interaktif, terapi ini mampu meningkatkan keterampilan sosial, rasa percaya diri, empati, dan kemampuan menghadapi masalah kehidupan. Soul mapping juga dapat membantu menurunkan gejala afektif, terutama perasaan inferior yang sering muncul pada penderita skizofrenia residual.

Dalam konteks RSJD dr. Arif Zainudin, pendekatan ini sangat relevan diterapkan bagi pasien rawat jalan dengan gejala sisa atau ringan, yang membutuhkan metode terapi yang tidak hanya fungsional tetapi juga menyenangkan dan penuh makna. Soul mapping bukan hanya menjadi terapi, tetapi juga sebuah wahana penciptaan ruang pemulihan yang partisipatif, estetis, dan terapeutik.

Dengan menggandeng praktisi seni dan peneliti yang memahami proses kreatif, soul mapping membangun jembatan antara ekspresi jiwa dan teknologi. Proses ini diharapkan mampu memperkuat aspek rehabilitatif, menyediakan data perkembangan psikologis secara lebih rinci, serta memberi kontribusi nyata dalam memperkaya pendekatan terapi jiwa berbasis seni dan imajinasi di Indonesia.