Pengukuhan Prof. Dr. Maryono, S.Kar., M.Hum. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Estetika Tari dan Prof. Dr. Suyoto, S.Kar., M.Hum. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Sastra Tembang

Pada hari Kamis, 27 Februari 2025, Institut Seni Indonesia Surakarta meyelenggarakan sidang senat terbuka dalam rangka pengukuhan Prof. Dr. Maryono, S.Kar., M.Hum. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Estetika Tari dan Prof. Dr. Suyoto, S.Kar., M.Hum. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Sastra Tembang Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta.di Pendapa GPH Joyokusumo, Jebres, Surakarta. Prof. Dr Maryono, S.Kar., M.Hum. berkesempatan menjadi penyampai orasi ilmiah pertama yang memaparkan orasi ilmiah berjudul ‘Standarisasi Estetika Hastaswanda pada Seni Pertunjukan Tari’. Prof. Dr Maryono, S.Kar., M.Hum. meneliti hal itu lantaran resah terhadap beberapa aspek teori Hastasawanda yang tidak memenuhi standar teori estetik dalam seni pertunjukan tari. Beliau menemukan standar teori estetika baru bernama Nawasapada yang mampu menganalisis secara sistematis, logis, dan empiris dalam menjelaskan fenomena estetika seni pertunjukan. Standar teori estetika Nawasapada juga diklaim menghadirkan dinamika baru dari konsep terbatas menjadi teori terbuka serta dinamis dan dapat mewadahi berbagai aspek estetik seni pertunjukan. โ€œUntuk itu, standar teori estetika Nawasapada menjadi penting disosialisasikan dalam rangka perluasan wawasan dan membuka pemahaman serta kesadaran baru terhadap terori estetika seni pertunjukan,โ€ kata Prof. Dr Maryono, S.Kar., M.Hum. Prof. Dr Maryono, S.Kar., M.Hum. menutup orasi ilmiahnya dengan menampilkan sebuah tarian, diiringi musik karawitan dan tembang yang dia ucapkan.

Sementara itu, Prof. Dr Suyoto S.Kar., M.Hum. menjadi guru besar berikutnya yang dilantik dengan membacakan orasi ilmiah dengan judul ‘Konsep Luluh Penyajian Tembang Jawa sebagai Karya Sastra Klasik Kehadirannya dalam Karawitan’.

Beliau menjelaskan makna luluh dalam seni tembang yakni menyatukan dua suku kata dan dua nada yang berbeda.
“Dalam sajian tembang, luluh dibagi menjadi dua, luluh tembang dan luluh lagu. Luluh tembang artinya ada dua suku kata yang pengucapannya dijadikan satu. Misalnya tur iku menjadi turiku dan dur angkara menjadi durangkara,” kata dia.

Sedangkan luluh lagu yakni mengikutsertakan seleh nada berikutnya ke nada sebelumnya sehingga terdapat penghalusan lagu. Dosen kelahiran Sragen, 2 Juli 1960, itu juga dikenal sebagai sosok yang aktif menulis. Selama lima tahun terakhir dia telah menulis empat judul buku tentang karawitan dan 12 jurnal ilmiah bereputasi nasional dan internasional.

Guru besar ISI Solo itu juga memiliki dua paten atau hak kekayaan intelektual, yakni Gending Pambuka Sanggar Parikesit Karanganyar dan Gendhing Penembara Sanggar Parikesit Karanganyar.

Sejak 1990, dosen mata kuliah Karawitan Gaya Surakarta ini sudah berkesenian di berbagai negara, baik Amerika, Asia, dan Eropa. Suyoto saat ini juga menjadi Pimpinan Redaksi KETEG: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran, dan Kajian Tentang Bunyi.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor ISI Solo Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum berpesan agar kedua guru besar bisa terus menjaga, mengembangkan, dan memperbaharui seni agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan berdampak nyata bagi kehidupan.

Dr. I Nyoman Sukerna, S. Kar., M. Hum berharap dengan gelar tersebut, Prof. Dr. Maryono, S.Kar., M.Hum. dan Prof. Dr. Suyoto, S.Kar., M.Hum. punya semangat baru untuk berkarya dan membawa ISI Solo ke level yang lebih tinggi.

“Dunia seni dan budaya sedang menghadapi tantangan tidak mudah mulai dari globalisasi, digitalisasi, dan perubahan sosial yang begitu cepat. Maka seni harus tetap bertahan dan menjadi bagian dari solusi. Dan disinilah guru besar Prof. Dr. Maryono, S.Kar., M.Hum. dan Prof. Dr. Suyoto, S.Kar., M.Hum. perlu mengambil peran,” ujar beliau.